Duapuluh sembilan (29) ta’aruf…

yulia rachman

(Foto ilustrasi: Yulia Rachman dan Alzipco)

DUAPULUH SEMBILAN TA’ARUF
diadaptasi dari kisah Mbak Novita

Proyek pencarian jodoh saya, sesungguhnya dimulai tahun 2003 dan berakhir tahun 2013. Berarti tepat 10 tahun saya berjuang dan berusaha mencari pasangan, dan menjalani proses ta’aruf sebanyak 28 kali. Berikut adalah rinciannya : tahun 2003 sebanyak 1 x, tahun 2004 sebanyak 2 x, tahun 2005 sebanyak 1 x, tahun 2006 sebanyak 4 x, tahun 2007 sebanyak 1 x, tahun 2008 sebanyak 8 x, tahun 2009 sebanyak 1 x, tahun 2010 sebanyak 2 x, tahun 2011 sebanyak 6 x dan tahun 2012 sebanyak 2 x (haha lengkap banget datanya, karena semua tersimpan rapi dalam diary saya).

Melelahkan sekali menjalani proses sebanyak 28 kali selama 10 tahun. Lelah fisik dan jiwa, karena berkali-kali mengalami kegagalan. Selama 10 tahun itu, saya jatuh bangun menata harapan, tertatih-tatih membangun ketegaran dan kepercayaan diri, berharap dari satu proses ke proses berikutnya. Karena setiap saat saya berta’aruf, tentu saya berharap bahwa itulah proses yang terakhir. Saya pernah berproses dengan orang Pekanbaru, Lampung, Mesir, Maluku, Tangerang dan lain-lain. Saya pernah nge-track menuju bandara, pernah juga sendirian naik motor ke Depok, hanya untuk dipertemukan dengan para lelaki yang akan berproses dengan saya. Tapi semuanya berakhir dengan kegagalan. Tak jarang saya terpuruk, jatuh dan mencoba bangkit berjuang memulihkan luka. Hingga di bulan Juni 2012, saya menyerah, saya lelah dan memutuskan berhenti berusaha, bahkan saya menghentikan semua doa meminta jodoh dan lebih fokus untuk memberi ruang kepada diri sendiri. Kebetulan di bulan November 2012, saya diterima jadi guru, berbarengan mengawali kuliah master saya Jadi ada pelampiasan kesibukan dari semua kepenatan dan kelelahan hati. Tahun 2012 adalah puncak kelelahan saya.

Tetapi tiba-tiba di bulan Desember 2012, tawaran proses ke-28 itu datang (Proses taaruf di bulan Januari 2012 adalah proses saya yang ke-27), saat hati sudah lelah berjuang, saat diri tak siap membuka hati. Anehnya, setiap kali saya istikharah, 3 kali sehari, maka 3 kali itu saya menangis di dalam setiap doa-doa istikharah saya. Takut menolak tapi juga memang belum siap menerima yang baru. Maka  saya pun memutuskan mundur dari proses ini, jadi proses ke-28 ini adalah proses yang numpang lewat saja.

Bulan Januari 2013, saya larut dalam kesibukan kuliah. Orangtua saya berangkat umrah di bulan ini (sepertinya inilah faktor penyumbang terbesar jodoh saya datang). Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan bulan Februari. Di bulan Februari inilah, ada 2 kejadian penting yang saling berkaitan yaitu RAT (Rapat Anggota Tahunan) Organisasi dan lamaran dari dia, sang calon suami. Saya terpilih menjadi sekretaris organisasi, tapi karena volume kesibukan kuliah dan alasan lain, saya memutuskan mundur dari kepengurusan ini. Saya pun mengajukan surat pengunduran ini, dengan 2 alasan yaitu kesibukan kuliah dan adanya agenda pribadi yang sedang direncanakan yang dikhawatirkan akan mengganggu kinerja kepengurusan. Secara bersamaan, saya pun meminta kepada sahabat-sahabat saya di asrama, untuk mencarikan saya laki-laki yang bisa mengajak saya menikah.

Awalnya 2 hari setelah RAT, yaitu di hari Senin 16 Februari 2013, sahabat menelpon ingin menawarkan temannya yang sedang mencari calon istri, dan memastikan saya belum punya calon suami. Sungguh tak terkira kekagetan saya, tak menyangka sama sekali, teman yang dimaksudkannya ternyata temanku juga yang selama ini berinteraksi sehari-sehari, menjadi partner kerja karena mengajar satu bidang studi yang sama. Empat hari kemudian, yakni Jumat tanggal 22 Februari 2013, calon suami  menyampaikan serius ingin menikah dengan saya.

Saat calon suami menyampaikan niatnya, saya tak langsung memberi jawaban karena masih kaget dan tak menyangka. Esoknya, saya baru bisa berfikir. Saya menyuruhnya langsung menghadap ke orangtua, karena berkaca dari pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, biasanya faktor penentu keputusan adalah orangtua. Saya takkan menikah dengan orang yang tak direstui orangtua. Maka saya serahkan pada orang tua untuk mengambil keputusan besar ini.

Akhirnya di hari Sabtu tanggal 2 Maret 2013 (seminggu setelah dia mengungkapkan niatnya), dia langsung menghadap orangtua di Cimone Tangerang (kebetulan orangtua sedang ada di rumah kakak), sendirian lagi, dan ajaib, bapakku langsung menerimanya tanpa harus istikharah katanya. Tambah kagetlah saya. Kenapa secepat dan selancar ini? Saya sudah curiga, jangan-jangan inilah jodoh saya. Karena dulu sekali, saya pernah berdoa dalam setiap istikharah saya (dari proses-proses yang dulu), jika memang jodoh saya, indikatornya adalah tolong permudah dan percepat prosesnya. Ternyata doa tersebut dikabulkan saat ini, bertahun-tahun setelah saya puluhan kali menjalani proses taaruf.

Saat saya ceritakan pada orang terdekat yang tau persis perjuangan saya mencari jodoh, beberapa diantara mereka pada nangis. Padahal saya tidak menangis untuk proses terakhir ini. Mungkin stok air mata saya sudah habis, haha.

Kalau dihitung-hitung, (calon) suami saya sebenarnya adalah orang ke-22 dari sekian proses taaruf saya, yang datang kembali dalam kondisi yang berbeda. Dulu dia ditawarkan melalui mediator (comblang) dan tidak berhasil. Ceritanya, 2 tahun yang lalu, ketika baru bekerja di sekolah, saya pernah dijodohkan dengan dia oleh sahabat saya yang lain, sang wakamad keasramaan. Tapi saat itu kecenderungan jawabannya adalah tidak, karena ibunya pengen dapet menantu orang Jawa, sementara saya berusaha mencari sosok yang kalau bisa, mengajakku untuk mengabdi di daerah. Saya fikir, semuanya sudah selesai saat itu. Kami berinteraksi tanpa beban, tampil apa adanya tanpa ekspektasi apapun. Bahkan masing-masing dari kita, berproses dengan yang lain.

Sekarang di proses ke-29, dia datang sendiri dengan penuh keyakinan dan keberanian. Katanya, kali ini ia serius sebab melihat saya mundur dari kepengurusan dengan alasan ‘ada agenda pribadi’. Ia khawatir jika saya dipinang lelaki lain. Total hanya 2 bulan lah proses saya menuju pernikahan dengannya sejak 22 Februari hingga 20 April 2013. Rasanya seluruh lelah saya dengan 28 proses sebelumnya, hilang dan luruh seketika. Alhamdulillah. Kini rumah tangga kami sudah berjalan 2 tahun dan makin semarak dengan kehadiran putra pertama kami di tahun 2014.

Begitulah cerita tentang proses menuju pernikahan saya. Teriring doa dan salam cinta untuk para sahabat saya yang diuji dengan kesendirian. Saya tahu dan bisa merasakan sekali apa yang kalian rasakan, beribu nasehat tentang kesabaran, beribu tuduhan tentang minimnya usaha yang dilakukan, dan beribu tuduhan karena selalu “pilih-pilih” (bagaimana mungkin tidak pilih-pilih, membeli sepatu saja kita milih apalagi untuk teman seumur hidup),  rasanya tak cukup mengobati lara hati dan rasanya ingin berteriak pada dunia bahwa kesendirian sesungguhnya bukanlah hal yang kita inginkan. Tapi yakinlah Allah tak pernah tidur, Dia Maha Mengetahui kesedihan dan kerapuhan kita, dan akan tiba masanya yang terakhir lah yang terbaik dari semuanya.

Foto oleh Artika Farmita

Advertisements

5 thoughts on “Duapuluh sembilan (29) ta’aruf…

  1. Pingback: Duapuluh sembilan (29) ta’aruf… | Nirma Istri Zubair

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s