NASIB JODOH PEREMPUAN CERDAS (Mario Teguh, Saya, dan Fahmi Amhar)

 

mario teguh

“Laki2 umumnya merasa terintimidasi oleh perempuan cerdas/pintar. Karena itu jangan terlalu tampil atau kelihatan pintar atau cerdas.” (Mario Teguh, status Ria Fariana, 25 Januari 2014)

Saya tidak tahu apakah Mario Teguh (MT) betul-betul mengatakan itu. Kalau iya, saya nggak akan heran kalau MT bakal di-bully seperti Felix Siauw ketika dulu nge-tweet, “Itulah keadilan | karena wanita dipersepsikan lembut, dilindungi, dimaklumi, indah, dan dijaga | seorang ibu. Menurut pandangan feminis, menjadi Ibu Rumah Tangga itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita. Karena itu, wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga.”

Tahun lalu saya sempat nulis sedikit tentang jodoh muslimah cerdas. Yang saya belum sempat nulis adalah seputar manusia (laki-laki atau perempuan) alpha, dan beta. Orang alfa, gampangnya, adalah tipe tampil di depan, dominan, berkuasa. Beta, sebaliknya, lebih suka di belakang layar.

Contoh alpha woman, katanya sih, Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher yg dijuluki The Iron Lady. Suaminya, Sir Denis Thatcher, meski pengusaha yang cukup sukses, namun lebih sering disebut sebagai ‘the husband of the former British Prime MinisterMargaret Thatcher‘ dan tidak keberatan dengan predikat itu.

Jadi, biasanya, saran untuk aplha woman, jangan cari alpha man, carilah beta man yang gak keberatan istrinya jadi pusat perhatian ‘dunia’ karena populer.

Turun lagi tulisan tahun lalu…

SAYA MUSLIMAH TANGGUH, AKHWAT BATU KARANG, PEREMPUAN KUAT, AKANKAH SAYA MENIKAH?

Assalamu’alaykum wr wb

Saya muslimah yang belum ketemu jodohnya. Saya sudah meminta orang2 di sekeliling saya untuk mengatakan dg jujur penyebab saya belum ketemu jodoh. Menurut keluarga dan teman2, karena saya terlalu cerdas. Saya selalu meraih nilai tinggi dalam hal akademik dan saat ini pun saya hampir menyelesaikan S4 saya di salah satu universitas top di Eropa. Saya juga memiliki karier yang sangat baik, dengan penghasilan di atas rata2 teman lelaki saya.

Sebagian mengatakan saya terlalu jujur dan apa adanya (Bahasa Jawa: blak-blakan), tegas, to the point, dan sangat mandiri. Saya sendiri sering merasa kalau saya ini cenderung maskulin. saya kurang suka dengan perempuan yang bergantung kpd orang lain, tdk mandiri, termasuk kpd suaminya. Saya tdk ingin menjadi perempuan sprt itu. Dalam gambaran saya, perempuan harus cerdas, kuat, kokoh, mandiri, independent dalam segala hal, termasuk dalam hal finansial (dg kata lain harus pernah membuktikan sukses dalam karier, meskipun itu dikerjakan dari dalam rumah), dan memiliki kemampuan manajerial sebagaimana laki-laki.

Saya merasa bahwa saya memang tomboy dan maskulin. Tidak sedikit teman2 muslimah yang mengatakan, “Mbak, kalau kamu itu cowok, aku pasti naksir kamu…”

Fakta bahwa saya memakai hijab berupa jilbab/rok panjang, tidak membuat saya merasa jadi feminine. Saya ingin menikah. Tapi saya tidak bisa, saya TIDAK BISA, kalau harus feminin semacam mengubah warna baju saya jadi pinky-pinky, membawa tas Hello Kitty ke mana2, atau pakai kerudung motif bunga2. Saya juga tidak mau waktu saya kelak lebih banyak dihabiskan di dapur. It’s just not me.

Saya bersedia berubah, tetapi saya tidak mau mendudukkan diri saya lebih rendah daripada suami saya kelak. Saya tidak mau jadi budak suami yang nilainya hanya setara tukang macak, masak, dan manak (berdandan, masak, dan beranakpinak). Saya ingin suami saya kelak menghargai kapasitas intelektual saya, berikut seluruh prestasi saya sebagai individu. Saya ingin suami kelak selalu mendorong dan mendukung saya untuk sukses, dan bukan hanya saya yang harus selalu peduli kepada kesuksesan karier suami.

Apakah saya mengintimidasi laki-laki di sekeliling saya? Apa ada laki-laki yang tidak terintimidasi oleh saya?

Salam,
Nurisma Fira

***
Wa’alaykumsalam Wr Wb

Ananda Fira,
Besar kemungkinan Ananda mengintimidasi lelaki di sekeliling Ananda. Tetapi, itu tidak menjadi persoalan besar. Kenapa? Ya karena Ananda tentu tidak akan mau menikahi lelaki yang bisa Ananda intimidasi, khan? Ananda tentu tidak mau menikahi lelaki yang takut kepada Ananda dan nantinya termasuk ke dalam barisan ISTI alias Ikatan Suami Takut Isteri.
Lupakan saja para lelaki yang terintimidasi oleh Ananda. Ananda masih berpeluang menikah dengan lelaki lain yang tidak terintimidasi oleh Ananda.

Saya ingin terlebih dahulu menggarisbawahi pernyataan Ananda, “Saya merasa bahwa saya memang tomboy dan maskulin. Tidak sedikit teman2 muslimah yang mengatakan, “Mbak, kalau kamu itu cowok, aku pasti naksir kamu…”
“Fakta bahwa saya memakai hijab berupa jilbab/rok panjang, tidak membuat saya merasa jadi feminin. Saya ingin menikah. Tapi saya tidak bisa, saya TIDAK BISA, kalau harus feminin semacam mengubah warna baju saya jadi pinky-pinky, membawa tas Hello Kitty ke mana, atau pakai kerudung motif bunga2. Saya juga tidak mau waktu saya kelak lebih banyak dihabiskan di dapur.”

Feminin itu bukan berarti kita harus pakai rok ke mana-mana (kalau di rumah atau di sekitar mahram, kita lebih senang pakai kaos dan celana jeans, ya ngga ada yang menyalahkan, khan?). Feminin bukan berarti harus suka warna pink dan corak bunga2. Feminin itu bukan hobi menyulam dan tenggeam dalam tetek bengek urusan dapur.

Feminin itu reseptif (mampu memahami yang disampaikan orang lain), hangat dan bersahabat, suportif, ‘sexy’, ‘menggairahkan’, pengasih dan penyayang (istilah Jawa: kemong karo bocah) dan percaya dengan sisi feminin dirinya sendiri.

Tentu saja Ananda bisa tetap cerdas, tangguh, kokoh, sukses, blak-blakan, tanpa basa-basi, argumentatif, serta berjiwa pemimpin, tanpa harus bersikap feminin. Tapi Ananda harus tahu, orang lain yang juga memiliki kualifikasi seperti ini.

Siapa mereka?
Mereka adalah para lelaki yang Ananda idamkan.
Persoalannya adalah: Para lelaki yang Ananda idamkan ini, tidak mau menikahi dirinya sendiri.

Ananda jatuh cinta kepada diri Ananda sendiri, dalam versi lelaki.
Para lelaki ini, tidak jatuh cinta kepada dirinya sendiri.
Para lelaki ini mencari ‘pelengkap dirinya’, ‘belahan jiwanya’, ‘separuh nafasnya’, ‘sigaraning nyawa’-nya, yang tidak dia peroleh dari teman-teman prianya, dan tidak dia dapatkan di kantornya.

Poin berikutnya adalah soal kemandirian, termasuk kemandirian finansial. Mayoritas laki-laki tidak akan peduli berapa besar penghasilan istrinya. Bila ia merasa penghasilannya cukup layak, dia tidak akan peduli apa dan bagaimana karier istrinya, dan berapa besar penghasilan istrinya. Hanya para perempuan berpenghasilan besar yang peduli berapa besar penghasilan (calon) suaminya.

Satu hal yang nampaknya Ananda belum memahami.
Lelaki itu ingin dibutuhkan. Kalau laki-laki tidak lagi dibutuhkan dalam persoalan finansial, tidak dibutuhkan untuk mengantar-jemput kita ke mana-mana, mendengarkan kita curhat, membetulkan genteng bocor, mengecat pagar, merenovasi rumah, mengurusi computer dan gadget, lantas buat apa mereka ada?

Yang terakhir, apakah ada lelaki untuk Ananda?
Tentu, insyaAllah ada lelaki yang menghargai kecerdasan, ketangguhan, kesuksesan, serta kemandirian perempuan. Mereka adalah para lelaki yang bersedia ‘untuk tidak dibutuhkan’. Tetapi, mungkin, mereka bukan lelaki yang Ananda inginkan.

Barangkali pilihannya begini. Tetaplah menjadi diri Ananda sendiri. Namun Ananda harus bersiap, kemungkinan akan melewati jalanan terjal untuk menemukan lelaki yang Ananda idamkan. Bagaimana pun, tidak banyak lelaki yang sanggup bersaing dengan kesuksesan istrinya. Di langit tidak bisa ada matahari kembar. Di panggung tidak boleh ada dua artis. Salah satu harus mau ngalah jadi figuran.

Atau, carilah laki-laki yang bersedia ‘bekerja di balik layar’. Contoh legendaris adalah Denis Thatcher, yang tidak keberatan hidup dalam bayang-bayang nama besar Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher. Sekadar info, Margaret Thatcher dikenal oleh dunia sebagai The Iron Lady (perempuan baja) karena kebijakan politik dan kepemimpinannya yg tegas dan tanpa kompromi.

Pilihan lain, berkorbanlah *sedikit*, yakni dengan lebih lembut dan lebih feminin *sedikit*.

Nah, selamat menentukan pilihan.

Salam sayang dan penuh cinta,
Mamamu, Nurul Huda binti Abdul Muthalib

ps: tulisan ini fiksi. kesamaan nama adalah kebetulan belaka. Mama saya ‘tidak menulis surat seperti ini’ dan saya ‘tdk menulis surat kpd beliau sprt ini’. Tapi kira2 beginilah wejangannya kpd saya…. selama bertahun2… jadi ya teteup fiksi, kayaknya.

***

PEREMPUAN HARUS CERDAS, DAN CANTIK!

Beberapa kali menemukan status yang mengutip pernyataan seorang dokter bahwa kecerdasan anak, secara genetik diturunkan oleh ibu dan bukan didapatkan dari ayahnya. Karena itu, pesan Bu Dokter tersebut, “Carilah istri yang pandai, bukan yang cantik.”

Secara teori, seharusnya begitu.
Faktanya, tidak sesederhana itu.

Pertama, setelah 7 tahun menikah, saya sampai pada kesimpulan sementara, bahwa bagaimana pun pada dasarnya laki-laki itu visual. Secara umum laki-laki nggak peduli dengan piala, piagam, beasiswa, karier, prestasi, atau deretan gelar di depan dan di belakang nama istrinya. Mereka mencari istri. Bukan menyeleksi Chief Executive Officer (CEO/Direktur Utama) Perusahaan.

Inilah yang banyak dilupakan oleh para perempuan cerdas. Yakni, laki-laki mencari istri. Bukan mencari karyawati. Bukan mencari lawan berdebat. Bukan mencari ibu, apalagi ibu tiri. Bukan juga mencari pengasuh. Apalagi pembantu. Ini persoalan kedua yang banyak saya lihat.

Tentu saja laki-laki yang cerdas akan mencari istri yang cerdas. Tetapi, mereka mencari istri. Bukan menyeleksi partner kerja atau karyawati. Karena mencari istri, yang penting bagi laki-laki bukan istri yang ‘extra-intelligent’ atau ‘super-intelligent’, tapi ‘reasonably intelligent’.

Lho, katanya mau cari istri cerdas supaya anak2nya cerdas?

Iya. Tapi inget, segala sesuatu itu ada sisi lainnya. Orang2 cerdas biasanya sulit menerima pendapat orang lain, kritis, anlisis, sulit dipahami oleh orang yang kurang cerdas, dominan, dan sisi2 negatif lainnya.

Perusahaan akan bagus kalau memiliki karyawan cerdas. Tapi laki2 mencari apa yang tidak bisa dia dapatkan dari kantor atau tempatnya bekerja, yakni perhatian, kasih sayang, kehangatan, dihargai, diterima apa adanya. Sesederhana itu.

Diakui atau tidak, mayoritas laki-laki terintimidasi oleh perempuan yang cerdas, karier sukses, dan independen.

Lantas bagaimana dengan para perempuan yang super-intelligent? Apakah akan ada yang memilih mereka untuk menjadi istri?

Allahua’lam. Saya juga tidak tahu.

Tapi, yang saya pelajari dari parenting adalah, kecerdasan itu ada 8 area: linguistik, logika-matematika, visual-spasial, musikal, kinestetik, naturalis, intrapersonal, dan interpersonal.

Mungkin, kampus mencari mahasiswa yang cerdas visual-spasial, logika-matematika, dan/atau linguistik. Kalau bisa yang super-intelligent.

Tetapi, laki-laki mencari istri yang ‘reasonably intelligent’ di bidang linguistik dan logika-matematika, dan *super-intelligent* di bidang kecerdasan visual dan interpersonal. Indikator yang paling gampang: Mampu membuat dirinya berpenampilan menarik, dan bisa membuat dirinya berkepribadian menarik.

Apa pun, karena ini sudah masalah orang banyak, akhirnya kita harus bicara sistem. Pak Fahmi Amhar berpendapat, “Sistem sekuler membuat laki-lakinya letoy… bukan perempuannya gak boleh maju, tetapi keliru kalau laki-lakinya malah mundur, mengelak dari tanggungjawab, dan menyerahkan (persoalan kepemimpinan) ke wanita.” (Pak Fahmi Amhar, dgn editing dari Fira, status facebook 24 September 2014).

Karena sekarang jodoh belum dipandang sebagai urusan masyarakat dan negara, ya terpaksa untuk sementarta ini kembali ke masing-masing individu.

Colchester, Essex, 28 Januari 2014

Advertisements

7 thoughts on “NASIB JODOH PEREMPUAN CERDAS (Mario Teguh, Saya, dan Fahmi Amhar)

  1. aakkk, aku suka sekali sama tulisan-tulisanmu mbaakkk. aku dulu sempat tidak mau atau tepatnya takut menikah karena kebanyakan orang setelah menikah cuma jadi “pembantu rumah tangga” untuk suaminya. ngapain pun aku nikah karena aku punya semua yang bisa bikin aku bahagia. tapi ternyata itu karena aku belum ketemu orang yang tepat aja. 😀

    Like

  2. sepertinya mewakili sebagian diri saya juga…pernah ada temen bule cantik dan smart menikahi pria indonesia yang biasa dan dari pedalaman..dengan tujuan berumah tangga sang istri yang membiayai kehidupan dan sang suami yang menjaga anak-anak dirumah..sekarang mereka tinggal di jerman dan dikarunia 2 putra..nampak kebahagiaan terpancar dari wajah mereka pada foto2nya..hanya saja untuk saya pribadi kadang berfikir apa juga harus begitu..sementara tetep seneng ngobrol segala hal dari olahraga sampai politik, dari hal remeh sampai yang memusingkan dengan seseorang pria idaman…sekalinya dapet..kok ya beda iman..subhanallaah…semoga segera naik kelas imannya…dan ketemu jodoh saya…bantu aminin ya..

    Like

  3. Pingback: Perempuan Alpha Dalam Rumah Tangga | wifeydiary

  4. Pingback: Perempuan Alpha Dalam Rumah Tangga | Sekolah Pernikahan

  5. Salah satu solusi untuk wanita yang cerdas dan belum dapat jodoh di tanah air, bisa mencari calon suami di benua biru Eropa. Pria Eropa yang cerdas (rata-rata) menghargai wanita yang cerdas juga, apalagi wanita Asia (rata-rata) pekerja keras, ngemong dan melayani suami.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s