Vaksinasi, Charlie Hebdo, dan One Direction

“Dinara demam, Bunda… Sekolah apa enggak?”

“Ya uda gak usah sekolah biar di rumah sama aku…” jawab saya ketika suami laporan kemarin pagi.

Saya sudah siap-siap akan mengasuh Dinara yang mungkin rewel karena sakit. Ternyata alhamdulillah, Dinara sehat.

“Bunda, I want to dance… Dance kids, Bunda…”
Di komputer, saya mencarikan video dance anak-anak di youtube. Dinara menunjuk satu yang judulnya What makes you beautiful.
“Kamu dancing pakai lagu ini di sekolah?” tanya saya.
“Dinara mengangguk-angguk penuh semangat.
Waduh…

Dua tahun lalu Fahdiy rajin dancing ala Gangnam Style di rumah. Awalnya saya kira karena nonton Pocoyo yang edisi Gangnam Style di youtube. Belakangan saya baru tahu kalau di sekolah, ketika makan siang di aula sekolah, makan siang dibarengi iringan Gangnam Style. Bagi siswa yang ingin unjuk diri karena berbakat atau ingin dance, boleh dancing di tengah-tengah aula atau di panggung aula.

“Dinara dancing-nya di kelas, atau di luar?”
“In the classroom…”
“Semua dancing?”
Dinara mengangguk-angguk sambil terus bergoyang seiring lagunya One Direction.
“Eh, Dinara, Bunda ada lagu yang lebih bagus ini…”
Akhirnya Dinara dancing diirngi Hijab Makes You Beautiful-nya Mr The All Shared.

Sebetulnya saya ngerti maunya pihak sekolah mengajarkan anak-anak untuk dancing. Semua PAUD di Inggris wajib mengajarkan 3 area primer dan 4 area spesifik. Tiga area primer tersebut adalah Personal, Social, Emotional Development; Communication and Langauge, dan Physical Development. Sementara 4 area spesifik adalah literacy, mathematics, understanding the world, dan Expressive Arts and Design.

Dancing adalah cara yang baik untuk mengajarkan beberapa hal sekaligus. Anak belajar mendengarkan dan menerima perintah (communication, understanding, and language), belajar memperhatikan (attention), belajar bersosialisasi (making relationship), belajar berani mencoba aktivitas baru (self confidence dan self awareness), being imaginative (menyanyi, make music, dance, berani bereksperiment dengan ketiga hal tersebut, dan ke depan diharapkan mampu mengekspresikan pemikiran serta perasaannya melalui desain, teknologi, seni, seni, musik, drama, cerita, dan drama/akting). Dan tentu saja, physical development. karena dancing bagus untuk melatih motorik kasar dan halus.

Cumaaaa kalo lagunya Gangnam Style, “Heeeyyyyyy Sexy Leideeeehhh…” kok ya gimanaaaa, gitu…
Meski ya memang cuma diputer musiknya saja, tanpa video klipnya yang horor itu… Begitu juga dengan What makes you beautiful-nya One Direction. Tapi kalau ada pilihan Hijab makes you beautiful, ya kenapa tidak?

Sebagian muslim yang mengharamkan musik pasti tidak akan setuju dengan saya dan Mr The All Shared. Ya nggak apa-apa. Beda pendapat soal musik nggak perlu sampai saling mengkafirkan.

Saya sih percaya ke depan umat Islam makin dewasa dan bisa ketemu lebih banyak persamaan meski berbeda-beda jamaah ngajinya. Misalnya saja soal vaksinasi dan Khilafah. Di Indonesia, hampir seluruh ulama dan kelompok dakwah membolehkan vaksinasi. Yang menentang vaksinasi paling ya itu-itu saja, dengan referensi yang juga itu-itu saja. Ide tentang Khilafah juga begitu. Yang terang-terangan menentang paling ya itu-itu saja.

Sepanjang yang menyampaikan sabar, lama-kelamaan umat pasti akan memahami pentingnya vaksinasi. Umat juga semakin cerdas bagaimana merespon penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saww, bahwa kekerasan dan tindakan anarkis bukanlah jawabannya. Di Barat, kasus Charlie Hebdo justru menguatkan persaudaraan di antara sesama muslim, bahkan bisa jadi lebih kuat daripada persoalan Palestina atau Syria.Begitu pula dengan dakwah menegakkan Khilafah.

Musti diakui, kelompok antivaksinasi itu merepotkan tenaga kesehatan di Indonesia. Hikmahnya, munculnya kelompok antivaksinasi membuat banyak dokter aktivis dakwah menulis buku tentang pentingnya vaksinasi. Sisi lain Isu ISIS, membukakan peluang ide Khilafah ramai diperderbatkan dan diperbincangkan di mana-mana. Dulu, pasca aksi terorisme Al Qaeda 11 September 2011 di AS, umat islam sedunia memang di-bully. Tapi setelahnya ternyata Islam menjadi agama yang paling cepat bertumbuh dibandingkan agama lain.

Begitu juga ngasuh anak di Barat. Tantangannya memang berat. DI sisi lain, kesempatan tinggal di negara maju meluaskan cakrawala berpikir saya. Nggak dikit-dikit gampang banget menyalahkan demokrasi. Demokrasi memang salah dalam pandangan Islam. Tapi untuk meninju demokrasi sampai jatuh, ini perlu teknik tersendiri (Halaahhh…) karena kalau tidak, sebagian umat Islam pasti akan teguh menyatakan bahwa demokrasi itu cuma kendaraan dan bukannya konsep pemikiran. Hikmah lain tinggal di Barat dan merasakan jadi minoritas, perasaan ukhuwah Islamiyah meningkat pesat. Sesama muslim merasa jadi bersaudara.

Mungkin ada benarnya kata Oom Felix Siauw, “Di dalam hal buruk, ada hal baik yang tersembunyi menunggu ditemukan | asal kamu nggak putus asa duluan, dan nggak nyalahin Allah duluan…”

“Pantesan fansnya One Direction banyak juga yang anak SD,” komentar ayahnya krucils di sore hari pas kami ngumpul. “Simon (Simon Cowell maksudnya) memang paling bisa membaca psikologi gadis-gadis untuk kepentingan bisnisnya supaya dagangannya laku.”

Saya dukung kalau Mr The All Shared mengeluarkan video klip (parodi) baru.

Colchester, Essex, 21 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s