Fahdiy ogah ikut sepakbola…

Mike Shenton with the current Kingsway Primary school team

(ilustrasi Mike Shenton, peatih sepak bola di Kingsway Primary School, sumber gambar Manchester Evening News)

Seminggu lalu sekolah membagikan edaran tawaran bergabung dengan ekstrakurikuler sepak bola. Kami mendapatkannya dari Fahdiy (year 2, umur 6 tahun), sedangkan kelasnya Dinara (Reception, 4 tahun) tidak. Apakah year 1 (umur 5 tahun) diberi atau tidak, kami juga nggak tahu.

Inti edaran tersebut adalah menawari siswa year 2 untuk ikut after school club sepak bola, langsung dibmbing  oleh Colchester United Football Club. Free of charge, alias gratis.

Melihat agresifnya klub-klub sepak bola mencari benih-benih atlet berbakat, jadi teringat kisahnya David Beckham. Ibunya Beckham perias rambut (hairdresser), ayahnya desainer penata ruangan spesialis dapur (kitchen fitter). Keduanya fans fanatik Manchester United dan sering mengajak seluruh anggota keluarga nonton pertandingan sepak bola, terutama kalau MU yang berlaga. Becham tumbuh jadi pecinta olah raga sepak bola. Ketika masih kecil dan gurunya bertanya, “What do you want to do when you’re older?”
Dia akan selalu menjawab, “I want to be a footballer.”
Meski guru-guru selalu mengulang pertanyaan dengan, “No, what do you really want to do, for a job?”, jawaban Beckham tidak pernah berubah.

Mula-mula Beckham hanya main bola di park sekitar rumah, sama seperti anak-anak Inggris pada umumnya. Ia lantas mendaftar di sekolah sepak bola milik Bobby Charlton di Manchester di usia 11 tahun, dan mendapat kesempatan menjalani training di football club Barcelona. Tim pertama yang dibelanya adalah klub lokal di kota tempat tinggalnya, Ridgeway Rovers. Berikutnya membela klub-klub lokal semacam Leyton Orient dan Norwich City. Lantas bergabung dengan sekolah sepak bola yang dikelola klub Tottenham Hotspur, yang kemudian jadi klub besar pertamanya. Saat dua tahun bermain membela klub lokal Brimsdown Rover, ia terpilih sebagai pemain nasional terbaik untuk kategori di bawah usia 15 tahun (Under 15 Player of The Year, 1990). Umurnya masih 16 ketika ia memutuskan meninggalkan bangku sekolah dan menandatangani kontrak Youth Training Scheme dengan Manchester United. Di sini ia bersama nama-nama ‘besar’ lainnya seperti Ryan Giggs, Gary Neville dan Paul Scholes.

Di Eropa Barat atau dunia sekarang secara umum, sepak bola bukan lagi sekadar olah raga. Ia menjelma menjadi bisnis Dan kalau sudah urusan uang, sulit bagi media untuk tidak melibatkan perempuan. Sejak Piala Dunia 2006, media massa mengenalkan istilah WAGs, Wives And Girlfriends. Istilah ini mulanya diberikan tabloid Inggris kepada para istri dan pacar pesepakbola Inggris. Pada perhelatan Piala Dunia 2006 di Baden Baden, Jerman, dari tim Inggris, yang datang tak hanya para pemain dan manajer, namun juga para istri dan pacar. Di antaranya adalah Victoria Caroline (istri David Beckham), Cheryl “Tweedy” Cole (pasangan Ashley Cole), Coleen McLoughlin (Wayne Rooney), Louise Bonsall (Michael Owen), Emma Hadfield (Gary Neville), dan Carly Zucker (Joe Cole). Juga Melanie Slade (Theo Walcott), Abbey Clancy (Peter Crouch), Alex Curran (Steven Gerrard), dan Elen Rives (Frank Lampard).

Publik Baden Baden dan dunia dibuat terperangah dengan gaya hidup serba mewah yang ditampilkan WAGs. Di siang hari, Victoria dkk berbelanja. Tentu saja yang dibeli bukan brand sembarangan tapi yang papan atas semacam Prada, Gucci, Dolce and Gabbana, Dior, Diane von Furstenberg, Chloe, Marni, Blumarine, dan Wolford. Sementara di malam hari para WAGs ini berpesta dengan minum-minuman keras yang mahal.

Tak pelak, wartawan membuntuti mereka 24 jam. WAGs di Piala Dunia 2006 jadi lebih menonjol ketimbang kiprah suami atau pacar mereka. Sayangnya, langkah timnas Inggris yang saat itu diasuh pelatih Sven-Goran Eriksson kandas di perempat final. Victoria cs dituding berandil besar dalam kegagalan ini. Menurut analisis tabloid The Sun, WAGs membuat pasangannya kehilangan konsentrasi di lapangan dengan berita-berita mengenai pesta dan belanja.

Sejak itu popularitas WAGs meroket. Seiring dengannya, dunia sepak bola semakin menunjukkan sisi lain. Yakni munculnya para wanita di dalam bisnis sepak bola. Ini bukannya tanpa sebab. Di dalam ideologi kapitalisme yang berkuasa sekarang, ukurannya adalah uang. Enam belas negara yang berlaga di PIala Dunia, misalnya, tentu bukan semata ingin mengangkat trofi Henry Delaunay, tapi juga memperebutkan uang.

Fakta lain bahwa sepak bola lekat dengan bisnis dan uang adalah maraknya perjudian sepak bola. Di Barat, perusahaan judi online menjadi sponsor klub. Pecandu sepak bola tentu ingat akan logo perusahaan judi online yang pernah tertera di jersey klub seperti Real Madrid, AC Milan, dan Juventus. Frederic Oumar Kanoute, saat bernaung di bawah manajemen Seville, pernah menolak memakai kaos timnya yang disponsori judi online. Ia muslim dan menolak judi.

Demi memperbesar perputaran uang, dimunculkan prensenter sepak bola perempuan untuk mendobrak maskulinitas sepak bola. Eksploitasi terhadap perempuan ini belakangan semakin banyak yang menyadarinya. Di Indonesia, KPI pernah kebanjiran pengaduan dari masyarakat terkait busana presenter kuis sepak bola. Koordinator Bidang Isi Siaran KPID Jabar Nursyawal, menyatakan bahwa menurut publik, cara berpakaian para presenter tersebut telah melanggar norma di masyarakat. Di dalam ideologi kapitalisme, sepak bola menjelma menjadi salah satu mesin pencetak uang. Mungkin tidak hanya sepak bola, tetapi hampir semua cabang olah raga harus berorientasi kepada uang.

Di dalam ideologi Islam, olah raga tetap ada. Hanya berbeda orientasinya. Di dalam Islam, olahraga ditekankan pada pertahanan diri dan persiapan jihad (peperangan). Rasulullah pernah memerintahkan agar anak-anak muslim diajari olahraga berenang, berkuda dan memanah, suatu tamsil olahraga-olahraga yang dapat digunakan untuk survival, membela diri, dan tentunya berjihad. Karenanya pada masa Khilafah Islamiyah, yang menonjol adalah olahraga bela diri, berkuda, dan berenang. Khilafah membangun sistem kehidupan yang syar’i termasuk dalam hal fasilitas olahraga untuk menunjaang hal tersebut.

Kemunduran olahraga beladiri terjadi secara signifikan terjadi merata di seluruh dunia (termasuk di Eropa) sejak ditemukannya senjata api. Ketika Eropa dengan intelijen dan tipu muslihatnya berhasil menjajah berbagai negeri di Asia, termasuk sebagian besar dunia Islam, mempelajari beladiri tradisional mulai dilarang secara sistematis. Seni beladiri sebagai suatu kemampuan untuk bertarung yang sesungguhnya hanya tinggal ada di film-film laga, yang dalam hal ini film Jepang atau Cina memang selangkah lebih maju, sehingga berhasil membuat seni beladiri dari negeri itu terkenal dan berkembang di seluruh dunia. Kemampuan berenang di dunia Islam justru meredup seiring ditutupnya pemandian-pemandian umum yang syar’i. Sementara itu, sejak ditemukannya sepeda dan kendaraan bermotor, berkuda menjadi sesuatu yang ekslusif bagi kalangan berada.

Di dalam sistem kehidupan yang melegalkan perjudian dan eksploitasi perempuan, sepakbola Inggris menjadi mesin pengeruk uang yang jelas-jelas terlibat perjudian dan eksploitasi perempuan. Meski begitu, sebetulnya hukum asal olah raga sepak bolanya sendiri tetap mubah. Jadi buat anak-anak muslim yang mau berkarier sebagai atlet sepak bola di Inggris, ya pinter-pinternya sajalah supaya nggak terlibat dengan yang haram-haram… Hehehe…

Fahdiy sudah menyatakan, tidak mau ikut after school club sepakbola. Anyway ini isi surat edaran dari sekolah:

Dear Parents/Carers,

I am pleased to offer children in Year 2 a chance to take part in a football club run by Colchster United Football Club. The after school club sessions will help your child with their sporting ability, giving them the opportunity to improve on their skills whilst participating in fun games and matches. The club will began on Thursday 22nd January from 3.00 until 4.15 and run for 9 weeks. The last session will be on Thursday 26th March.

This sports club will be funded by the sports premium (a grant that has been given to schools as part of the Olympic legacy). Therefore, we can offer this club free f charge.

If your child would like to to attend this club, please could you fill in the form below and return it to your child’s teacher or the School Office. There are only 24 spaces available so please do not assume that your child has got a place. A letter wil be sent out on Monday 19th January saying if your child was succesful or unsuccesful.

Yours sincerely,
PE Coordinator

Colchester, Essex, 20 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s