Roby dan Sarah, mbok nikah sajalah…

roby-sarah

(Krucils, Roby dan Sarah, akhir Desember 2014)

Ini kali kedua krucils dan saya bertemu Roby. Tahun lalu, saya sedang hamil Mahdi ketika ketemu dengannya yang hanya sendirian tanpa Sarah. Roby berusia sekitar 33 tahun, warga negara Amerika Serikat, sekarang dosen matematika di The University of Sydney, Australia. Akhir Desember mereka keliling dunia, mudik ke Inggris karena Sang Pacar, Sarah, adalah warga negara Inggris. Orang tua Sarah tinggal di Inggris. Dari Inggris mereka bablas ke AS, kampung halamannya Roby. Sarah, seperti namanya yang cantik, orangnya memang cantik. Setelah menyelesaikan PhD-nya di Leeds, sekarang Sarah postdoc satu kantor dengan Roby.

Melihat orang-orang seperti Roby dan Sarah, yang memilih hidup bersama tanpa menikah, jujur bikin saya terheran-heran. Dua orang dewasa, sama-sama pintar, sama-sama mapan, penghasilan ganda, sudah hidup bersama, lhaaa kok ngga berani menikah. Atau tepatnya memilih hidup bersama tanpa menikah.

Tentu saja kami tidak pernah menanyakan mengapa mereka tidak menikah. Di Barat, gaya hidup seperti yang dilakoni Roby dan Sarah itu sudah lumrah. Itu urusan individu mereka sendiri yang dilindungi negara. Orang lain nggak boleh protes… hehehe…

Kelihatannya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mapan kariernya, orang di Barat cenderung menunda pernikahan. Termasuk menunda untuk punya anak. Dampaknya, semakin banyak ibu di Inggris yang melahirkan anak pertama setelah berusia di atas 40 tahun.

Dilihat dari sudut pandang individu, nikah gak nikah memang masalah individu yang bersangkutan. Tapi ketika gaya hidup enggan menikah dan malas beranakpinak ini dipraktekkan oleh banyak individu, dalam jangka panjang, negaralah yang merasakan dampaknya. Pasalnya, dengan angka kelahiran penduduk yang rendah, ternyata banyak juga masalah yang dihadapi sebuah negara. Misalnya, persoalan ketersediaan tenaga kerja di masa mendatang.

Tahun 2010, Menteri Luar Negeri Austria dari People’s Party (VPO), Michael Spindelegger, membuat pernyataan yang menggegerkan berkaitan dengan kebijakan imigrasi aktif. Ia menyatakan bahwa Austria harus memberikan kesempatan kepada 100,000 warga asing (imigran) yang berkualitas untuk tinggal di Austria pada tahun 2030. Jika tidak, dikhawatirkan sistem sosial dan sistem kesehatan akan kolaps karena begitu sedikit tenaga kerja yang berkontribusi di kedua sistem tersebut saat ini, akibat penuaan sosial. Pernyataan tersebut segera menuai kecaman dari pesaingnya The Freedom Party (FPO) dan kelompok sayap kanan the Alliance for the Future of Austria. Pemimpin FPO, Heinz-Christian Strache, menyatakan, “Saya menginginkan 100,000 bayi Austria; bukan 100,000 imigran!”

Sementara di Jepang, tahun 2014 lalu, jumlah bayi lahir di Jepang diperkirakan menyentuh angka terendah dalam catatan kelahiran negara tersebut. Angka kelahiran bayi tahun lalu hanya 1,001 juta jiwa, jauh dibanding angka kematian yang mencapai 1,269 juta jiwa. Sebuah penelitian pada 2012 memprediksi bahwa Jepang punah seribu tahun lagi. Sebab, rendahnya tingkat kelahiran membuat jumlah anak-anak menurun seorang setiap 100 detik.

Hiroshi Yoshida, profesor ekonomi di Tohoku University, menyatakan, “Jika penurunan angka kelahiran ini berlanjut, kami akan merayakan Hari Anak 5 Mei pada 3011 tanpa ada anak-anak di Jepang.”

Hal yang sama mengancam Korea Selatan. Populasi penduduk Korea Selatan dikhawatirkan bakal terus menurun lantaran angka kelahiran yang merosot drastis. Bahkan menurut sebuah penelitian, bangsa Negeri Ginseng itu bisa punah pada tahun 2750.

Barat sudah lebih dulu ‘nyadar’ tentang ancaman depopulasi ini. Makanya mereka lebih membuka diri terhadap imigrasi. MIsalnya Inggris, sudah sejak 1945-an mendatangkan warga India, Pakistan, Bangladesh, Karibia, Afrika Selatan, Kenya, dan Hong Kong. Awalnya memang diperlukan sebagai tenaga kerja kasar. Lama-kelamaan jadi mukimin alias penduduk tetap dan jadi warga negara Inggris. Lantas beranak pinak di Inggris. Untuk sementara stok tenaga kerja di Inggris cukup. Di Jerman, kurang lebih sama. Sejak tiga dasawarsa jumlah anak yang lahir di Jerman tetap kecil. Sejak tahun 1975 statistik menunjukkan jumlah kelahiran per perempuan sebesar 1,3 anak, dengan gerakan naik-turun angka itu yang tidak berarti. Kesimpulannya, sejak 30 tahun besar generasi anak lebih kecil sepertiga dibandingkan dengan besar generasi orang-tua. Berkat imigran yang pindah dalam jumlah besar dari negara lain ke Jerman bagian barat, penurunan jumlah penduduk yang sebanding dengan angka kelahiran yang kecil, dapat dicegah. Terima kasih, imigran… Hehehe…

Dulu, saya nggak paham kalau orang-orang tua ribut, resah, dan gelisah, kalau ada anak dewasa yang siap menikah, kok nggak nikah-nikah. Nikah khan, urusan pribadi. Yang jomblo saja tenang-tenang, kenapa sekeliling yang galau? Ternyata pernikahan dan kelahiran anak memang tidak seyogyanya disempitkan jadi urusan individu. Seperti Jepang sekarang, pemerintahnya sibuk nyomblangi pemuda-pemudinya, supaya mau nikah dan beranak.

Di negara-negara maju, layanan kesehatan sudah disediakan negara, dan gratis. Biaya pendidikan anak sampai lulus high school, sudah ditanggung pemerintah. Kurang apa lagi?

Sepertinya yang kurang adalah nilai-nilai yang diajarkan di dalam masyarakatnya. Kalau dalam Islam, para muslimah pengemban dakwah tahu banget bahwa menikah bukan sekadar urusan materi. Bukan sekadar dapet capeknya, ngga dapet duitnya. Hilang cantiknya, hilang juga ijazahnya keselip entah di mana. Berkeluarga, hamil, melahirkan, menyusui mengasuh dan mendidik anak, dalam Islam ini semua urusan pahala, surga, ideologi sahih pemimpin dunia, serta kebangkitan sebuah generasi cemerlang di masa mendatang.

Sayang sekali Roby, Sarah, dan orang-orang seperti mereka, belum memahami hal semacam ini. Meski begitu, ngga ada salahnya, Roby dan Sarah, udah runtang-runtung gitu, mbok ya sekalian nikah sajalah… Kita nunggu berita baiknya…

Colchester, Essex, 18 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s