Marah-marah sama Dara… (Meminta maaf kepada anak)

Kemarin marah-marah sama Dara dan Dinara. Pakai bentak-bentak pula… Menyesal sudah pasti.
Penyebabnya, pertama hormon. Sedang nggak sholat hari pertama. Kedua, dysmenerrhoe, alias nyeri haid. Ketiga, entah kenapa Mahdi yang biasanya siang hari tidur, hari itu nggak tidur-tidur sehingga emaknya nggak bisa istirahat. Ketika akhirnya Mahdi terlelap saat disusui, ketika akan ditaruh di kasur (kasurnya di lantai, kami gak punya tempat tidur), eh… lha kok Si Calon Siswa PAUD malah lompat-lompat di kasur adiknya!.

“Ssstt!” saya coba kasih kode. “Baby mau bobo, nih, Mbak…”
Nggak mempan.
“Dara, please, no jumping. Diem, Dara, duduk!
Malah lompat keliling kasur.
“Dara keluar!!!”
Tetep lompat2.
Akhirnya Mahdi bangun.
Emak murka.
Dara diseret ke kamarnya dan Bunda marah2. Dara jelas kaget, nangis tersedu-sedu.
“Ayo bobok!!!”
Sambil masih terisak-isak dan berurai air mata, Dara memeluk boneka-bonekanya dan membenamkan wajahnya ke bantal.
Pintu saya tutup dari luar.

Mahdi, akhirnya nggak jadi tidur. Sementara Dara nangis sampai akhirnya ketiduran.

Haduuhhh… Langsung berasa gagal jadi orang tua.

Padahal Rasulullah Saww sudah bersabda, “Laa taghdhob, jangan marah…”

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَوْصِنِى .

قَالَ « لاَ تَغْضَبْ » . فَرَدَّدَ مِرَارًا ، قَالَ « لاَ تَغْضَبْ »

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam (kemudian) mengatakan, “Wahai Nabi berikanlah aku wasiat/nasihat”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Janganlah engkau marah”. Kemudian orang tadi berkata lagi, “Wahai Nabi berikanlah aku wasiat/nasihat”. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam pun mengatakan, “Janganlah engkau marah”

Sebaliknya, berapa banyak ayat di dalam Alquran yang memuji orang yang bersabar. Tapiiii, melawan anak balita itu kok ya seriiingggg banget kami (saya dan suami) hilang stok kesabarannya. Parahnya, saya sering harus menghadapi kerucils sendirian. Kalau berdua, dan saya melihat suami mulai naik suaranya, biasanya saya berusaha menyabarkan dengan mencandai, “Yah, Yah… kelahi kok musuh balita. Kalau mau marah-marah, sama mahasiswa bimbinganmu saja sana…”

Sorenya saya meminta maaf ke Dara.

“Dara, Bunda minta maaf tadi marah-marah sama Mbak Dara…”
Dara cuma mengangguk-angguk. Senyum-senyum. Ngga ada dendam sama sekali.

Ah, anak-anak. Andai dunia orang dewasa juga begitu, ya, mudah memaafkan orang lain…

Dulu, waktu harus meminta maaf kepada anak untuk pertama kali, ke Fahdiy, rasanya beraaatttt banget. Terus terang, orang tua saya tidak pernah meminta maaf kepada saya. Kelihatannya ini bagian dari budaya di tempat saya dibesarkan dulu, bahwa orang tua tidak perlu meminta maaf kepada anak.

Dalam tradisi masyarakat kita yang lazim ditegakkan adalah prinsip patron dan clien (atasan-bawahan, bapak-anak). Orang tua adalah pemberi titah yang tidak boleh dilanggar oleh anak-anaknya. Anak wajib menurut, dan dia pun terbiasa enggan untuk melanggar atau mengkonfrontir segala apa yang jadi titah orang tuanya.

Orang tua memang selalu berada pada pihak yang “benar” dan “dimenangkan”, sementara anak berada di pihak yang “salah” dan cendrung “keliru”. Karena tradisi itu pula jarang tampak, orang tua meminta maaf kepada anaknya, meski ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan, apalagi kalau memang si orang tua tak merasa “bersalah” atau “khilaf’ sama sekali.

Lihat saja pada saat lebaran, selalu yang meminta maaf adalah anak atau yang muda terlebih dahulu. Dan lazim pula saat lebaran pihak yang merasa dituakan merasa “tersinggung berat” saat kerabatnya yang lebih muda tidak hadir atau tidak mengcapkan selam lebaran dan meminta maaf terlebih dahulu, walau hanya via telepon atau sms. Kenyataannya, kalau ada yang tua meminta maaf kepada yang muda maka itu dianggap sesuatu yang tidak lazim.

Benarkah begitu? Allahu a’lam bis shawab.

Saya sih ngambil yang baik-baik saja dari orang-orang Barat. Salah satu yang saya pelajari dari ilmu parenting ala Barat adalah sebaiknya ortu tidak gengsi meminta maaf kepada anak.

Di psychologytoday, Kate Roberts, PhD, menulis kira-kira begini, “Ketika orangtua meminta maaf, mereka mengajarkan kepada anak bahwa it’s okay untuk menjadi manusia, yang artinya tidak sempurna. Dengan meminta maaf, ortu menunjukkan bahwa bertanggungjawab setelah membuat kesalahan adalah hal yang jauh lebih penting daripada kesalahan itu sendiri. Ini bukan tentang kenapa membuat kesalahan, tetapi bagaimana kita bertanggungjawab atas kesalahan yang kita buat.”

Orang tua yang mau meminta maaf kepada anak, artinya mengajarkan kepada anak tentang:

1) Penerimaan atas diri sendiri. Saat orang tua meminta maaf, anak belajar bahwa orang tua sebagai manusia bisa baik dan kompeten, bertanggungjawab, sekaligus tidak sempurna, pada waktu yang bersamaan. And that is okay.
2) Membuat kesalahan itu bukan berarti kelemahan. Orang tua yang mau meminta maaf mengajarkan kepada anak bahwa menerima bahwa dirinya membuat kesalahan bukan saja bentuk tindakan bertanggungjawab, tetapi juga bentuk kekuatan dan keberanian.
3) Dengan meminta maaf, kita bisa menghindar dari berbohong. Karena hidup dengan kebohongan jauh lebih buruk daripada mengakui kesalahan.
4) Belajar bahwa selalu ada kesempatan kedua untuk membetulkan yang salah.
5) Anak belajar bahwa membuat kesalahan adalah hal tak terhindarkan di dalam hidup ini.
6) Meminta maaf atas kesalahan yang kita buat adalah bentuk tanggungjawab dan kedewasaan kita. Anak belajar pertama kali adalah dari orang terdekatnya.
7) Anak PASTI melihat kesalahan orang tua, baik orang tua mau mengakui atau tidak. Hanya saja mereka tidak selalu bisa mengekspreskan perasaanya saat melihat orang tua tidak konsisten; meminta anak mengakui kesalahan dan meminta maaf, di sisi lain dia sendiri tidak mau mengakui kesalahan dan tidak mau minta maaf.
8) Anak belajar tentang harga diri. Bagaimana hubungan antara meminta maaf dan harga diri, tergantung bagaimana ortu mengajarkan. Kalau ortu mengajarkan bahwa kita bisa membuat kesalahan dan meminta maaf tanpa harus merasa hancur harga diri, itulah yang akan dipelajari anak. Tapi kalau ortu mengajarkan bahwa meminta maaf artinya kehilangan wibawa, ini juga yang akan diterima anak, dan kelak anak akan menjadi orang yang gengsi meminta maaf dan tidak bertanggungjawab atas kesalahan yang dibuatnya.

Sebaliknya, jika orang tua tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan tidak pernah mau meminta maaf kepada anak saat bersalah kepada anak, katanya sih, anak berpotensi mengalami hal-hal berikut ini:
1. Anak kehilangan kepercayaan pada orang tua maupun orang lain.
2. Anak kurang mamiliki kepercayaan diri.
3. Anak tidak dapat mengendalikan diri atau emosi.
4. Anak merasa sedih, tersisih, tersinggung dan lainnya.
5. Anak merasa tidak diperhatikan dan tidak dihargai perasaannya (paudbook.blogspot.com)

“… dan pema’afan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.” (Al Baqarah [2]: 237)

Colchester, Essex, 16 Januari 2015

Advertisements

2 thoughts on “Marah-marah sama Dara… (Meminta maaf kepada anak)

  1. Hehe….iya mbak kalau habis marah2 dan kadang meneriaki krucils, rasanya gak karuan. nyesal pastinya. dan juga nambah capeknya 😀 btw, kunjungan perdana saya nih mbak…kayaknya bakalan sering bw di mari nih…:-)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s