Saat guru daycare, PAUD,TK, dan SD di Inggris kudu memata-matai krucils kader teroris…

(Krucils pasca sholat Idul Adha 2013)

Nursery staff to be forced to report toddlers at risk of becoming terrorists. Gitu bunyi judul sebuah artikel berita di The Independent, 4 Januari lalu. Artikelnya sih, nggak nyangkut-nyangkut Islam dan muslim. Tapi foto ilustrasinya, gambar pendukung ISIS. Mau bilang ini bukan ditujukan kepada umat Islam, lha ilustrasinya udah obvious gitu, gimana coba?

Menurut kebijakan yang tertuang dalam the Counter-Terrorism and Security Bill, sekolah, termasuk guru nursery (PAUD dan TK) memiliki tugas untuk mencegah agar seseorang tidak tenggelam dalam aksi terorisme. Tugas ini dianggap sama pentingnya dengan tanggungjawab mereka selama ini dalam menjaga keselamatan anak-anak didiknya. Menurut juru bicara pemerintahan, beginilah yang dimaksudkan, Speaking to The Independent, a Government spokesperson reportedly said: “Schools, including nurseries, have a duty of care to their pupils and staff. The new duty in the Counter-Terrorism and Security Bill, to have due regard to the need to prevent people from being drawn into terrorism will be seen in a similar way to their existing safeguarding responsibilities.”

Katanya sih, tugas ini tidak akan mengharuskan para guru mengintervensi kehidupan pribadi siswa, tetapi para guru diharapkan mampu mendeteksi perilaku siswa yang diperkirakan mencurigakan. Maksudnya adalah, kalau perilaku siswa kira-kira bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang diajarkan di Inggris. Masih menurut jubir, “We are not expecting teachers and nursery workers to carry out unnecessary intrusion into family life but we do expect them to take action when they observe behaviour of concern. It is important that children are taught fundamental British values in an age-appropriate way.”

Jeng Yumna, ibu dokter yang tinggal di London mengomentari berita tersebut, “Pemerintah Inggris memburu siapa saja yang mereka anggap teroris bahkan benihnya. Jadi ada kebijakan agar para guru TK mengawasi anak-anak kecil yang berpotensi menjadi teroris. Apa indikasi anak akan menjadi teroris? Entahlah!!!!”

Lha ya jangankan Jeng Yumna, para kepsek dan tokoh politik saja juga bungung menentukan indikatornya, kok. Mereka bilang kebijakan ini nggak bakalan jalan, kalau pun dipaksakan, akan susah dijalankan. Mereka juga mengkritik pemerintah yang mewajibkan guru dan pengasuh anak-anak untuk bertindak jadi ‘mata-mata’. International Business Times menulis, “Critics said the idea was “unworkable” and “heavy-handed”, and accused the Government of treating teachers and carers as “spies”.

David Davis, the Conservative MP and former shadow home secretary, juga mempertanyakan, “It is hard to see how this can be implemented. It is unworkable. I have to say I cannot understand what they [nursery staff] are expected to do. Are they supposed to report some toddler who comes in praising a preacher deemed to be extreme? I don’t think so. It is heavy-handed.”

Lha, bukannya, seharusnya pihak sekolah dan keluarga bersikap saling mempercayai? Ini kok malah disuruh saling mencurigai? Kalau dibangun sikap memata-matai, saling mewaspadai, saling mencurigai, bagaimana bisa tumbuh saling percaya, keterbukaan, dan kerja sama, yang semuanya adalah hal-hal pokok yang diperlukan anak di rumah dan sekolah dalam tumbuh kembangnya?

Sekretari jenderal Russell Hobby, menyatakan pendapat sama, “It’s really important that nurseries are able to establish a strong relationship of trust with families, as they are often the first experience the families will have of the education system. Any suspicions that they are evaluating families for ideology could be quite counterproductive.”

Menurut beliau, PAUD dan TK seharusnya difokuskan sebagai pondasi literasi dan sosialisasi, dan inilah bentuk proteksi dari pendidikan pra-sekolah yang sebenarnya terhadap potensi terjerumus aksi terorisme yang dihadapi siswa. Janganlah sekolah dipaksa bertindak menjadi polisi.

“Nursery settings should focus on the foundations of literacy and socialising with other children – those are the real ‘protections’. Schools and nurseries, should not be required to act as a police service,” demikian penjelasan beliau yang dikutip The Telegraph.

Sebetulnya saya nggak terlalu kaget dengan kebijakan ‘aneh-aneh’ yang dibuat Barat. Bagaimana pun saya mengakui, sejak 2005, Barat termasuk Inggris menghadapi ancaman nyata dari apa yang mereka sebut sebagai Islamist extremist. Tetapi, menangkapi orang, termasuk memata-matai anak balita, ini tidak akan menyelesaikan akar permasalahan. Banyak ortu muslim yang meng-homeschool krucilsnya, dan ini membuat pemerintah akan semakin sulit mendeteksi ideologi yang ditanamkan kepada para krucils ini.

Akar masalah sebenarnya ada pada values atau nilai-nilai yang diadopsi Barat itu sendiri yang sering membingungkan ortu muslim. Ortu diharapkan mendidik dan mengajarkan agar anak berempati, hormat kepada orang lain. Pada saat yang bersamaan, jelas-jelas Pemerintah Barat membiarkan ketika media seperti Charlie Hebdo menyakiti hati banyak umat Islam. Alasannya, freedom of speech, freedom of expression.

Lha kalau semua atas nama freedom of speech dan freedom of expression, lantas orang bebas menghina dan menyakiti orang lain, tentu ini masyarakat yang sangat menyeramkan. Karena menghina orang lain dianggap biasa. Korban yang dihina diminta untuk menganggap hinaan sebagai hal yang wajar.

Dr. Nazreen Nawaz pun mempertanyakan, “I saw a BBC interview yesterday with a prominent UK journalist regarding the Charlie Hebdo attack. He was trying to defend freedom of speech by arguing that one way to prevent such incidents is to break the link between morality and the act of offending people, that it should no longer be viewed as immoral to offend individuals.

Seriously! What kind of society is it when basic, decent, human values like not offending or throwing insults at others are viewed with contempt and cast aside for the sake of allowing individuals to do or say what they like?

What kind of society is it? It’s a society that is suffering from the corrosive fallout of liberal values where ideas such as freedom of speech are blindly given the status of a sacred cow – untouchable, and unquestionable – stubbornly ignoring the social harm they can sow.”

Mas Adhipati Indradiningrat, ayah dari satu cute girl baby pun menulis:
We are living in a society,
where it is not okay to hurt another person physically (maybe because we can actually see the injuries?),
but it is totally okay to hurt the feelings of another person; in the name of freedom of expression (except in some cases, in which the standards for the exception are also not clear),
where a person is considered “not cool”, if he/she feels offended when someone tells an insulting joke about her mother; a person who endured a lot of pain just to bring her child into this world,
where a person can be considered narrow-minded, if he/she feels offended when someone draws degrading picture about his/her religion; something which he/she holds dear in his/her life,
where making insulting remarks on another person’s view or opinion in a discussion, is somehow considered a cool way to show that our views are the right ones,

It really makes me wondering…

Have we really became a modern, educated, and civilized society..?
Or are we becoming more and more like a childish, ignorant society instead?

Lha, ya khan aneh, kalau untuk anak-anak, menghina, mencela, merendahkan orang lain, termasuk keyakinan orang lain, semua perilaku ini kita bilang ke anak sebagai immoral, bad, bullying, dan tidak boleh dilakukan. Sementara di dunia orang dewasa, ini semua boleh dilakukan, katanya sebagai bagian dari indikator masyarakat yang maju.

Yvonne Ridley, jurnalis white British yang masuk Islam setelah ditangkap Taliban, memposting pernyataan Sally Kohn (kontributor Fox News Channel), “Muslim shooter=entire religion guilty. Black shooter=entire race guilty. White shooter=mentally troubled lone wolf,”

Negara-negara Barat perlu membuktikan dirinya mampu bersikap adil, tidak double standard. Jika tidak, mengharapkan guru TK memata-matai krucils hanya akan mengokohkan opini kebencian Barat terhadap Islam.

Colchester, Essex, 11 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s