Bukan sekolah Islam unggulan…

winter2015

(Ilustrasi krucils mau berangkat sekolah dalam suhu 0 derajat Celcius. Mobil, jalan, rumput, pohon, berlapis es tipis-tipis…)

Bila mampu, pasti semua orang tua akan menyekolahkan anaknya ke sekolah Islam unggulan ideologis. Tapi Allah kerap menghalangi keinginan hati seorang hamba. Jangan putus asa atau rendah diri saat anak bersekolah di sekolah negeri. Inilah ladang amal sebenarnya. Tantangan yang harus diterima. Jadikan anak-anak ayahbunda semua sebagai pejuang syariah nan ideologis meski harus bersekolah di sekolah negeri. (Status Pak Iwan Januar, 8 Januari 2015) Tidak ada jaminan anak sekolah di sekolah Islam unggulan ideologis akan menjadi pejuang – pejuang syariah nan ideologis. Tidak ada satupun pejuang syari’ah nan ideologis di negeri ini jebolan sekolah Islam unggulan ideologis. Namun faktanya mereka jadi pejuang syari’ah Islam ideologis. Justeru kalau mereka sekolah di sekolah Islam unggulan nan ideologis akan seperti air yang membeku jadi es , karena hanya menganggap Islam sebagai tsaqofah semata. Pengakuan Islam sebagai satu-satunya solusi hanya diakuinya karena mengejar nilai akademis. Tidak lebih! Jika mau konsisten transfer Ideologi , tetap di mekanisme halqah dalam sebuah Partai Politik Islam Ideologis bukan partai sekuler. (Saya ada bukti nyata bahwa banyak mahasiswa yang menjawab soal ujian dan benar secara Ideologis namun hanya mengejar nilai akademis semata). (Komentar Pak Darto Hamzah). Ya memang benar, menyekolahkan anak ke sekolah Islam unggulan, bukan berarti ortu lantas bisa bersantai-santai dalam mendidik anak. Tidak ada jaminan sama sekali. Bunda Mukti Amini, menulis, “Tibalah saatnya para aktivis ini membentuk sebuah keluarga, yang dicita-citakan tidak hanya berhenti hanya pada keluarga yang samara, tetapi juga sebagai keluarga dakwah. Berbagai upaya pun dilakukan untuk menjaga fikrah anak-anak kader sejak dini, dengan mencari lingkungan yang Islami, mendirikan TPA, hingga TKIT-SDIT-SMPIT (dan seterusnya) yang diharapkan akan dapat menjaga mereka sehingga fikrahnya tetap bersih.” “Namun, kenyataan sering tidak semanis yang diharapkan. Banyak terjadi berbagai kasus yang awalnya diperkirakan tidak akan merembet kepada anak kader, ternyata dengan terpaksa harus diterima. Kasus-kasus tersebut misalnya: murid-murid laki-laki SMPIT yang secara sembunyi-sembunyi mulai mengenal rokok dan menonton video porno, murid perempuan SDIT yang bersedia menjadi ’jablay’, cara menggunakan jilbab anak-anak SMPIT yang sangat gaul (di luar jam sekolah), atau membolos ramai-ramai jika waktunya mentoring agama Islam. Pada penelitian terbatas di daerah Depok terhadap anak-anak kader yang banyak tinggal di daerah tersebut, ketika ditanyakan pada mereka ”Apakah jika dewasa nanti ingin menjadi seperti orang tua mereka?”, ternyata 90% menjawab tidak!” Ustadz Fauzil Adhim pun mengemukakan hal serupa, “Beberapa waktu saya memeriksa akun Facebook anak-anak SDIT, alumni SDIT dan mereka yang masih belajar di SMPIT maupun SMAIT. Hasilnya? Sangat mengejutkan. Harapan saya tentang isi pembicaraan anak-anak yang telah memperoleh tempaan bertahun-tahun di sekolah Islam terpadu itu atau yang sejenis dengannya adalah sosok anak-anak yang hidup jiwanya, cerdas akalnya, tajam pikirannya dan jernih hatinya. Tetapi ternyata saya harus terkejut. Sekolah-sekolah Islam itu ternyata hanya mampu menyentuh fisiknya, tetapi bukan jiwanya. Betapa sedih ketika melihat anak-anak yang dulu jilbabnya besar berkibar-kibar, hanya beberapa bulan sesudah lulus dari SDIT atau SMPIT, sudah berganti dengan busana yang menampakkan auratnya dan ia perlihatkan kepada orang lain melalui foto-foto yang mereka pajang di Facebook. Tentu saja saya tidak dapat mengatakan bahwa pendidikan Islam terpadu, integral atau apa pun istilahnya telah gagal total. Tetapi apa yang dapat dengan mudah kita telusuri dari tulisan mereka di Facebook maupun media sosial lainnya memberi gambaran betapa kita perlu berbenah dengan segera. Selagi aqidah, akhlak dan secara umum agama ini hanya kita sampaikan secara kognitif, maka tak banyak perubahan yang dapat kita harapkan. Jika yang kita berikan adalah pelajaran tentang agama, dan bukan pendidikan beragama yang dikuati oleh budaya karakter yang kuat di sekolah, maka anak-anak itu mampu berbicara agama dengan fasih tapi tidak menjiwai. Tak ada kebanggaan pada diri mereka terhadap apa-apa yang datang dari agama; apa-apa yang menjadi tuntunan Allah Ta’ala dan rasul-Nya.” Beruntunglah kalian, wahai para orang tua muslim yang berkesempatan menyekolahkan anak ke sekolah Islam unggulan. Karena tidak semua orang tua diberikan ‘kemewahan’ semacam itu. Diakui atau tidak, menyekolahkan anak ke sekolah Islam unggulan, meringankan beban orang tua dalam mendidik anak. Lantas bagaimana jika tak mampu menyekolahkan anak ke sekolah Islam unggulan? Pak Iwan Januar sudah menjawabnya, “Jangan putus asa atau rendah diri saat anak bersekolah di sekolah negeri. Inilah ladang amal sebenarnya. Tantangan yang harus diterima. Jadikan anak-anak ayahbunda semua sebagai pejuang syariah nan ideologis meski harus bersekolah di sekolah negeri.” Ya, jadilah guru bagi anak-anak meski mereka bersekolah di sekolah negeri. Cari semua informasi bagaimana mendidik anak agar sehat, pintar, sekaligus sholih dan sholihah. Dalam tulisan Alternatif Pembinaan untuk Anak Kader, Bunda Mukti Amini sudah berbagi informasi mengenai langkah tentang hal ini. Tinggal kita praktekkan. Langkah-langkah tersebut di antaranya adalah memberikan teladan, melakukan pembiasaan hal-hal yang baik, bercerita dan mendongeng, banyak berdialog, sabar menjawab pertanyaan anak, memberikan hadiah/reward, tidak membandingkan anak, menegur anak dengan baik, menumbuhkan rasa percaya diri anak, memberikan kebebasan yang wajar dan bertanggung jawab, dan menghukum jika diperlukan. Beliau juga menuliskan tentang mendidik anak ala Nabi Ibrahim AS, yakni: 1. Mencari dan membentuk bi’ah (lingkungan) yang solihah 2. Mentarbiyah anak agar mendirikan sholat 3. Mentarbiyah anak agar disenangi banyak orang (mudah bergaul) 4. Mentarbiyah anak agar dapat menjemput rezeki Allah (dengan  bekerja) 5. Mentarbiyah anak agar mempertebal terus keimanan, sampai merasakan adanya kebersamaan dan pengawasan Allah kepada mereka. 6. Mentarbiyah anak agar tetap memperhatikan orang-orang yang berjasa. Bagi keluarga yang tinggal di Barat, sangat penting untuk mengikutkan anak-anaknya berkegiatan dalam kelompok. Bunda Mukti Amini menyebutnya dengan Clubbing. Beliau menyatakan, “Club merupakan sekumpulan orang yang sengaja dibentuk untuk mewadahi hobi atau minat yang sama. Club ini dapat kita jadikan alternatif untuk para remaja, dengan membentuk kelompok-kelompok sesuai hobi atau minat mereka. Artinya, tarbiyah tidak lagi akan diidentikkan dengan duduk tertib melingkar selama 2-3 jam, tetapi akan lebih dinamis. Beberapa hobi yang dapat dijadikan klub misalnya: olah raga (basket, futsal, bela diri, hiking, sepak bola, sepeda, renang, mancing, dll), seni (nasyid, teater, disain, rupa, kriya), bahasa (Inggris, Arab, Cina, dll), jurnalistik, dan masih banyak lagi.” “Melalui clubbing, diharapkan anak-anak dapat tersalurkan minatnya sambil tetap mendapatkan siraman taujih di sela-sela acara tersebut. Selain itu, anak tidak merasa ’dikelompokkan paksa’ dengan teman-teman yang tadinya tidak dia kenal atau justru sudah dia kenal tapi bukan teman dekatnya di sekolah, karena anak diberikan kesempatan untuk memilih teman sendiri dan masuk klub yang dia sukai,” lanjut beliau dalam tulisannya. Masih tentang clubbing, “Jika sebelumnya klub-klub semacam ini sudah terbentuk, alangkah baiknya jika klub tersebut dipertahankan, tinggal memolesnya dengan suasana tarbawi. Clubbing ini diharapkan cukup efektif, terutama bagi remaja yang sedang dalam pengenalan untuk diajak tarbiyah. Jika suatu saat remaja-remaja dalam klub tersebut sudah memahami esensi tarbiyah yang sesunguhnya, tentu mereka tidak akan keberatan lagi untuk dilakukan ’rekomposisi’ sesuai kebutuhan.” Bagi para aktivis dari Partai Dakwah, Ibu Mukti Amini menyarankan adanya Hari Keluarga. Beliau menulis, “Selama ini, sudah beberapa kali partai dakwah ini mencanangkan Hari Keluarga dengan berbagai kegiatan yang sudah terstruktur dan dilakukan mutaba’ah. Sayangnya, hal ini dilakukan secara insidental, tidak periodik. Saya sarankan agar Hari Keluarga ini dapat dijadikan agenda dari Bidang Kaderisasi untuk mengalokasikan hari Ahad pada tiap 1-2 bulan khusus berkumpul dengan keluarga, dengan berbagai kegiatan pilihan (yang sifatnya rileks dan refreshing), sehingga anak-anak tetap merasa dekat dengan orang tuanya secara fisik maupun emosional.” Untuk keluarga muslim yang tinggal di Barat, jika ibu tidak bekerja di luar rumah, maka setiap hari bisa diperlakukan sebagai Hari Keluarga dengan maksud dan tujuan sebagaimana yang ditulis Bunda Mukti Amini. Semoga para orang tua muslim diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mendidik putra-putrinya menjadi anak-anak yang sholih. Amiin. Colchester, Essex, 10 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s