Je Suis Muslim, dan saya nggak perlu minta maaf.

Pada 7 Januari 2015, tiga pria bersenjata melakukan penyerangan di kantor tabloid Charlie Hebdo, di Paris, Perancis. Kejadian ini menewaskan kurang lebih 12 orang dan 5 orang mengalami luka serius. Dua di antara yang tewas merupakan petugas kepolisian. Saksi mata menyatakan pelakunya adalah pria bersenjata yang meneriakkan “kami telah membalaskan dendam Nabi Muhammad” di saat melakukan serangan.  Insiden ini merupakan serangan yang mematikan di Paris sejak tahun 1989.

Charlie Hebdo (bahasa Perancis untuk Mingguan Charlie) adalah media satir asal Perancis yang menampilkan kartun, laporan, polemik dan lawakan. Menggunakan gaya bahasa yang cenderung formal dan mendengungkan non-konformis, media ini dinilai anti religius dan politik sayap kiri.

Serangan teror itu bukan kali pertama dialami kantor Charlie Hebdo. Pada pada November 2011, kantor Charlie Hebdo mendapat serangan dengan bom api. Penyebabnya tak lain  terbitnya edisi khusus yang memuat kartun Nabi Muhammad SAW. Dalam edisi khusus tersebut, Nabi Muhammad SAW digambarkan tengah mengancam para pembaca dengan mengatakan, “100 kali cambukan jika anda tidak mati tertawa”.

Sepekan kemudian, majalah itu kembali menerbitkan gambar versi laki-laki Charlie Hebdo yang sedang mencium laki-laki Muslim berjenggot setelah pengeboman terjadi. Headline pada majalah tersebut tertulis, “Cinta lebih kuat dari pada kebencian”.

Tak sampai setahun, Charlie Hebdo kembali menerbitkan kartun Nabi Muhammad SAW dengan jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya, bahkan secara lantang mereka menggambarkan keadaan Nabi Muhammad SAW tanpa busana. Teguran yang dilayangkan Pemerintah Perancis seakan dianggap angin lalu.

Media sosial, tentu saja langsung bereaksi. Hashtag #JeSuisCharlie (Saya adalah Charlie) jadi trending topic selain #CharlieHebdo. Yang menyesakkan adalah hashtag #KillAllMuslims yang diikuti ratusan tweets terkait Islamofobia.

(Foto demonstrasi menolak Islamisasi di Dresden, Jerman. Sumber gambar Channel4)

Sebelumnya, pada 6 Januari, 18.000 orang di Jerman turun ke jalan, melakukan protes menolak Islamisasi. Sepanjang Desember 2014, sebanyak 3 masjid di Swedia dibom. Pertengahan bulan lalu, Man Haron Monis yang juga seorang Muslim, melakukan penyanderaan di Lindt Cafe, Sydney, Australia, mengakibatkan 2 korban meninggal dan 3 orang terluka. Pembunuhan karyawan media Charlie Hebdo kian mengokohkan opini di Barat bahwa Islam agama kekerasan dan terorisme.

(Masjid Uppsala Swedia, masjid pertama dari 3 masjid yang dibom sepanjang Desember 2014. Setelah dibom, penduduk Uppsala yang non-Muslim memberikan dukungan disimbolkan kertas-kertas berbentuk hati yang ditempelkan di dindng masjid. Sumber foto BBC UK)

(Muslimah Swedia melakukan aksi membawa poster Ror Inte Min Moske yang berarti Jangan Menyentuh Masjid Kami. Sumber gambar BBC UK)

Adalah The Muslim Vibe yang kemudian memulai mempopulerkan hashtag #JeSuisMuslim (Saya adalah muslim) untuk melawan Islamofobia dan tekanan publik Perancis kepada umat Islam terutama di Barat.

(Gambar logo The Muslim Vibe)

Dalam website-nya, The Muslim Vibe memberikan penjelasan sebagai berikut:

The Muslim Vibe would like everyone to respond to these anti-Muslim posts by trending the hashtag #JeSuisMuslim, which means ‘I am Muslim’. Let the world know, that despite all the attacks against Muslims, and despite the fact that it is Muslims who are the biggest victims of terrorism, we stand proud of our faith and our principles without the need to apologise for the actions of extremists. Here’s some starting points.

  • Why you are proud to be a Muslim, no matter what the world thinks
  • Muslims are the biggest victims of terrorism and extremism
  • Discrimination against Muslims is not the solution against extremism
  • Islam denounces the killing of innocent civilians, both Muslim and Non Muslim
  • As Muslims, we have nothing to apologise for. Terrorism has no religion.

Islam berbeda dengan agama lain. Agama selain Islam tidak memiliki mekanisme jelas untuk menjaga kehormatan agama dan pemeluknya. Tak heran di Barat yang menunjung tinggi kebebasan berekspresi, agama Kristen, pastor, biarawan/biarawati, gereja, Yesus, bahkan tuhan, sering menjadi obyek guyonan dan pelecehan tanpa bisa dikendalikan.

Islam memiliki mekanisme jelas dan tegas dalam menjaga kehormatan agamanya. Di dalam Islam, hukum menghina Nabi jelas-jelas haram. Pelakunya dinyatakan kafir. Apalagi kalau pelakunya jelas bukan muslim. Adapun sanksi bagi pelakunya adalah hukuman mati. Hanya saja, kebijakan pelaksanaan hukuman mati ini membutuhkan seorang Khalifah yang memiliki ketegasan, keberanian, serta taat kepada Allah SWT.

Di masa lalu, hal pernah ditunjukkan oleh Khalifah Abdul Hamid II terhadap Perancis dan Inggris yang hendak mementaskan drama karya Voltaire, yang menghina Nabi Muhammad SAW. Ketegasan sang Khalifah, yang akan mengobarkan jihad (perlawanan) terhadap Inggris itulah yang akhirnya menghentikan rencana tersebut sehingga kehormatan Nabi Muhammad tetap terjaga.

Kekerasan tidak mengenal agama. #JeSuisMuslim, dan saya nggak perlu minta maaf atas segala bentuk kekerasan yang dilakukan sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam kepada pekerja Charlie Hebdo.

Semoga Allah Swt memberikan kesabaran dan kekuatan bagi saudara-saudara Muslim di Perancis.

Colchester, Essex, 8 Januari 2015

Advertisements

3 thoughts on “Je Suis Muslim, dan saya nggak perlu minta maaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s