Di Barat, anak-anak mungkin belajar sastra dan matematika sejak bayi…

children's library

(Di Nottingham City Centre Library, 2013)

Sebetulnya saya sudah bosan dan males banget mau datang ke library hanya demi menyanyi selama 30 menit. Seringkali nggak imbang ongkos repotnya dengan durasi acaranya yang hanya 30 menit. Apalagi di musim dingin. Sebelum ke luar harus mandi dulu, terus makan dulu. Nggak bisa ditawar ini. Kebijakan pribadi hihihi…. Terus memakaikan kaos kaki, sepatu, mungkin juga kaos tangan, scarf, topi, dan jaket. Persiapannya lebih lama dari acara nyanyinya. Eh, di mana-mana bukannya emang persiapan lebih lama daripada pentasnya, yak?

Karena Colchester kota kecil, penduduknya tidak padat, sehingga Greenstead Library perpustakaan kecil. Peserta singing time juga tidak banyak. Rata-rata lima orang. Dua di antaranya adalah Dara-zayna dan Mahdi. Padahal biarpun pesertanya cuma dua orang, acaranya tetap berlangsung. Hukumnya wajib, karena bagian dari program pemerintah.

Nah, saya itu, jelek-jelek gini, nggak tega-an. Saya nggak tega melihat librarian-nya semangat menata ruangan, menyiapkan mainan, boneka, kerincingan, dan berbagai perlengkapan singing lainnya, sementara pesertanya tidak banyak. Jadi kalau nggak betul-betul darurat, misalnya karena anak sakit, atau ada acara lain misalnya ada janji dengan sekolah atau health centre, saya selalu mengusahakan datang.

Sebetulnya acara menyanyi bersama di library itu menyenangkan untuk anak-anak. Pesertanya mayoritas batita, karena umur 3 tahun mereka sudah masuk nursery (PAUD). Awalnya saya kira target utamanya adalah mengajak ortu dan anaknya supaya main ke perpustakaan. Main saja. Nyanyi saja. Nggak harus pinjem buku. BUkunya semua boleh dipinjam gratis. Khusus buku anak, kalau telat nggak ada dendanya. Bahkan secara berkala, anak-anak diberi buku gratis. Lengkap dengan tasnya. Dulu saya pemburu gratisan-gratisan ini. Sekarang semangatnya sudah jauh berkurang.

bacabuku

(Isalah satu pamflet di dinding Radford Children’s Centre, Nottingham, 2013, yang memotivasi orangtua membacakan buku untuk anak-anak)

Belakangan saya curiga kalau bayi-bayi Inggris ini sudah belajar sastra dan matematika sejak bayi hanya karena diajak nyanyi di perpustakaan. Pertama, berdasarkan pengalaman dengan Fahdiy dan Dinara, saya nggak pakai mengajari membaca. Yang ada hanya membacakan buku. Ya pokoknya mereka bisa mengenal huruf dan membaca dengan sendirinya. Ini pengalaman yang berbeda dengan mengajarkan huruf Hijaiyah. Saya dan suami mengajarkan. Mulai dari mengenalkan hurufnya, mengenalkan bunyinya, dan berusaha mendisiplinkan Si Sulung membuka Iqra’-nya. Dapet 3 halaman sehari saja ortunya udah hamdalah.

Kedua, fakta mayoritas lagu anak-anak di negara Barat yang berbahasa Inggris, ternyata berima, dan banyak memuat angka. Yang berima misalnya Twinkle Twinkle Little Star berikut ini:

Twinkle, twinkle little star.
How I wonder what you are.
Up above the world so high.
Like a diamond in the sky.
Twinkle, twinkle little star.
How I wonder what you are

singingtime

(Ilustrasi kegiatan menyanyi anak-anak di library)

Atau Pat A Cake:

Pat-a-cake, pat-a cake, baker’s man,
Bake me a cake just as fast as you can.
Pat it and prick it, and mark it with B.
And put it in the oven for baby and me.

Contoh lagu anak-anak untuk menghafal angka di antaranya Five Little Ducks, Five Little Monkeys, Five Currants Buns, Five Little Speckled Frogs, Ten Green Bottles, Ten in a bed.

Yang berima sekaligus mengenalkan angka misalnya One Two Three Four Five, Once I Caught A Fish Alive. LIhat saja liriknya:

One, two, three, four, five,
Once I caught a fish alive,
Six, seven, eight, nine, ten,
Then I let it go again.

Why did you let it go?
Because it bit my finger so.
Which finger did it bite?
This little finger on the right.

storytime

(Iustrasi kegiatan storytelling di library)

Selebihnya untuk mengenalkan angka 1 s/d 10 ada lagu This Old Man, dan Over in The Meadow, yang prinsipnya adalah pengulangan kata-kata.

Pada This Old Man:

This old man, he played one,
He played knick-knack on my thumb;
With a knick-knack paddywhack,
Give the dog a bone,
This old man came rolling home.

This old man, he played two,
He played knick-knack on my shoe;
Baris 3, 4, 5 sama

This old man, he played three,
He played knick-knack on my knee;
Baris 3, 4, 5 sama

Kalau diperhatikan rimanya: One, thumb. Two, shoe, Three, knee. Four, door. Five, hive. Six, Sticks. Seven, heaven. Eight, gate. Nine, spine, Ten, hand.

Yang hitungannya terpanjang mungkin One Two Buckle My Shoe. Panjang karena sampai angka 20, dan tetap berima:

One two buckle my shoe
Three, four, knock at the door
Five, six, pick up sticks
Seven, eight, lay them straight
Nine, ten, a big fat hen
Eleven, twelve, dig and delve
Thirteen, fourteen, maids a-courting
Fifteen, sixteen, maids in the kitchen
Seventeen, eighteen, maids in waiting
Nineteen, twenty, my plate’s empty

Lagu anak-anak di Inggris (nursery rhymes) pasti bukan seperti Alquran yang menyastra sekaligus sarat makna. Nursery rhymes seringkali berima dan maknanya nggak jelas. Menurut wikipedia, lagu-lagu itu muncul di sekitar tahun 1700-an hingga setlah 1800-an. Kebanyakan diciptakan sebelum tahun 1900, yang awet sampai sekarang.

Salah satu yang saya kagumi adalah Twelve Days of Christmas. Lagu ini menggabungkan sekaligus; belajar bahasa dan sastra, matematika dasar, dan agama Kristen. Lagu ini jadi sangat panjang karena tergolong cumulative song, yakni paragraf pertama singkat. Sementara paragraf kedua berisi paragraf pertama dnegan tambahan. Paragraf ketiga berisi paragraf kedua dengan tambahan. Dan seterusnya. Sedikit contoh 3 paragraf pertama:

On the First day of Christmas my true love sent to me
a Partridge in a Pear Tree.

On the Second day of Christmas my true love sent to me
Two Turtle Doves
and a Partridge in a Pear Tree.

On the Third day of Christmas my true love sent to me
Three French Hens,
Two Turtle Doves,
and a Partridge in a Pear Tree.

Jadi kalau 12 paragraf, ya sangat banyak mengulang-ulang. Dan pengulangan adalah hal penting dalam pendidikan anak.

12 days of christmas

(Ilustrasi Twelve Days of Christmas)

Sebetulnya ingin sekali bisa menulis lagu untuk anak-anak seperti itu, yang mendidik dan relijius. Sebetulnya kita yang muslim mengenal puji-pujian shalawat Nabi yang biasanya juga berima. Misalnya Syi’ir Tanpa Waton. Cuma kalau dalam Islam mungkin mencipta lagu tidak sesederhana di Barat yang sekuler. Karena hukum mencipta lagu, bermusik, dan ‘menyanyi’ sendiri masih berbeda-beda di dalam Islam. Malah bisa-bisa kena hukum bid’ah dan kafir karena urusan lagu. Mungkin semacam isi Syi’ir Tanpa Waton berikut ini:

Duh bala kanca pria wanita
Aja mung ngaji syariat blaka
Gur pinter dongeng, nulis, lan maca
Tembe mburine bakal sengsoro

Akeh kang apal Quran Haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dhewe gak digatekke
Yen isih kotor ati akale

Colchester, Essex, 7 Januari 2015

Advertisements

3 thoughts on “Di Barat, anak-anak mungkin belajar sastra dan matematika sejak bayi…

  1. Pingback: Surat edaran awal semester untuk year 2 (umur 6 tahun) | Rumah kecil di seberang universitas

  2. Perpustakaannya keren…:D
    di Surabaya ada guru TK di sekolah Islam yang berhasil menciptakan banyak lagu anak-anak, tapi mungkin belum terpublikasi secara luas…

    Like

  3. Pingback: Rima dan Aliterasi (ODOP Day 20 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s