Homeschool perlu pengajar unggul

hs2

Liburan Natal dan Tahun Baru sudah habis. Krucils sudah mulai sekolah hari Senin lalu. Ya, kami memilih menyekolahkan anak-anak ke sekolah negeri, 20 menit jalan kaki dari rumah.

Selama dua pekan liburan, saya berusaha memberikan krucils kegiatan untuk dikerjakan supaya mereka tidak bosan. Senjata utama saya adalah activity books-nya krucils yang isinya disesuaikan dengan kurikulum pendidikan di Inggris. Anak-anak nggak suka mewarnai, tapi mau mengerjakan activity books-nya yang subjeknya belajar menulis, menghitung, matematika dasar, dan bahasa.

Mungkin karena ibunya bukan orang kreatif, krucils juga cenderung menjadi anak yang perlu diarahkan untuk mau bermain secara benar, yang sebetulnya adalah dasar belajar anak-anak sebelum 7 tahun. Kalau dibiarkan, kadang mereka bisa main sendiri. Kadang main bersama, misalnya main drama.

hs1

Cerita dramanya bermacam-macam. Misal dalam gambar di atas, mereka berpura-pura aik perahu dan menyelamatkan Mahdi dari buaya. Sofanya jadi perahu. Daya imajinasi anak luar biasa sampai bisa menganggap buayanya naik ke atap rumah dan perlu dipukul pakai gagang sapu. Kalau sudah menemukan mainannya sendiri, saya tinggal memperpanjang kemampuannya dalam berimajinasi.

Tapi tak jarang acara bermain bareng itu, berakhir dengan pertengkaran. Atau ada yang nangis.

Kadang saya sengaja memberikan mereka pekerjaan yang memang sudah saya rencanakan. MIsalnya, membungkus dan memberikan hadiah kepada teman-temannya. Hadiahnya nggak perlu yang mahal-mahal. Intinya bukan di hadiahnya, tapi melatih keterampilan motorik halus anak dalam menggunting, menempel selotip, membungkus hadiah, dan menulis nama teman-temannya. Juga keberanian memberikan hadiah kepada yang bersangkutan secara mandiri.

hs8

hs7

hs5

 

Kadang acara bermain sambil belajarnya tidak terencana. Misalnya, saat memandikan mereka di bath tub. Sambil menunggui mereka berendam, bisa bertanya, “What kind of animals live in the sea? In the river? In the pond? What animals need water?”

Kalau sudah ada satu jawaban, misalnya, “Flamingo lives in the river.”
Maka bisa dilanjutkan dengan apa warnanya, apa makanannya, dan seterusnya.

Saya juga nggak selalu bisa menjawab pertanyaan mereka. Kadang mereka yang bertanya, “What does eel eat, Bunda?”
“Well… Bunda juga nggak tahu. Nanti kalau mandinya suda selesai kita bisa cari informasinya di buku binatangmu.”

hs3

hs4

Terus terang memikirkan anak-anak harus bermain dan belajar itu menyita waktu. Krucils nggak bisa hanya diberi pensil dan activity books, lantas ditinggal masak. Kalau mau mereka mengerjakan activity books-nya, ibu harus menunggui. Dan artinya nggak bisa masak.

Kalau betul-betul mau mereka latihan menggunting, menempel, dan membungkus kado, ya nggak bisa disambi nyetrika. Apalagi mereka peang gunting. DItambah lagi anak yang kecil-kecil akan tertarik dan ikut memegang-megang bahan-bahan yang disiapkan, termasuk gunting. Jadi yang memang mereka tidak bisa dibiarkan mengerjakan secara mandiri, harus diawasi.

Di kamar mandi pun sama. Kalau dibiarkan, anak-anak bisa menyalakan keran terus-menerus dan membuang-buang air. Lantas bertengkar di dalam bath tub yang sempit. Lebih buruk lagi kalau ada yang tergelincir. Jadi kalau mereka bertiga berendam di bath tub, Mahdi diikat di pushchair-nya, ditaruh di pintu kaamr mandi, nonton kakak-kakaknya berendam main air.

Saat mereka bersemangat ‘mendayung di atas boat’ dan ‘mengejar buaya’ dalam rangka ‘menyelamatkan Mahdi’, saya harus ikhlas rumah berantakan. Kalau nggak mau rumahnya berantakan, krucils harus diajak main di luar rumah. Dan terntu saja menemani krucils main di playground atau jalan-jalan di lapangan lihat burung, artinya kehilangan waktu untuk pekerjaan rumah tangga.

Mayoritas pelaku homeschool yang saya tahu tidak menomorsatukan rumah rapi. Mereka tidak memandikan anak setiap hari. Mereka tidak sering masak, tidak masalah kalau anak-anak sering makan pizza atau makanan instan cepat saji lainnya, karena menganggap waktu bermain dan belajar besama anak lebih penting daripada menghabiskan waktu memasak di dapur.

Sebagian pelaku homeschool juga going with the flow, tidak memasang target sesuai kurikulum sekolah. Salah satu yang saya ketahui berpendapat, “I seriously became ‘free’ when I stopped referring to what they do in school, how they do it etc. Home Ed is not about the national curriculum. Home Ed is about my family’s values, my children’s strengths, my children’s interests and how they learn. Why should I feel compelled to follow a system designed by a bunch of individuals that have never met my family? Where is it written in stone that children aged 7 must know x, y and z and if they don’t know this – they have failed??!

So, if in one day the only academic learning my children have done is read – I don’t see that as unsuccessful home edding. If on another day – they have spent all day doing book work, I don’t see that as over pushing them. Each day is different in home ed.”

Saya dan suami nggak segitunya, sih. Kami realistis dan tidak menuntut rumah harus selalu dalam keadaan bersih dan rapi. Saya juga tahu diri, tidak mungkin bisa masak dan bikin kue sempurna setiap hari. Tapi terus terang saya nggak sanggup meng-homeschool anak-anak saya. Apalagi saya sering lelet, sering tidak disiplin, sering tidak terencana, sering tidak terstruktur, kadang saya sakit, ada waktunya ada anak yang sakit harus opname di rumah sakit, dan seterusnya. Terus terang saya kagum kepada para orangtua yang memilih homeschool untuk anak-anaknya.

Saya pikir inilah pentingnya peran negara membuat sekolah yang bagus dan gratis. Karena tidak semua ortu mampu mendidik anak-anaknya secara mandiri. Saya, termasuk di antara orang tua yang tidak mampu ini.

Semoga sistem pendidikan di Indonesia semakin berkualitas dan harganya terjangkau. Supaya para orang tua yang tidka mampu meng-homeschool anaknya, memiliki alternatif lain, yakni mengirim putra-putrinya ke sekolah yang bagus yang bisa dijangkau kekuatan ekonomi rumah tangganya.

Colchester, Essex, 6 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s