Belajar romantis ala pasutri Inggris

Pernikahan tidak hanya memerlukan kesungguhan, keberanian, dan ketabahan. Tetapi juga membutuhkan cinta, ketulusan, dan pengorbanan, sebagaimana tanaman memerlukan air, udara, dan cahaya matahari (Fira, 3 Januari 2012)

“Kenapa sih, Yah, kalau kulit jeruk nggak pakai diparkir di meja langsung dimasukkan ke sampah kompos? Buang kulit jeruk is not a rocket science, khan?”
Lain hari, “Kamu mau ngeblog? Ah, sebulan pasti bosen. Cari gratisan saja. Kalau setahun masih aktif baru boleh bikin yang berbayar.”
“Kenapa kalau di rumah kamu kok marahin aku terus sih, Pak? Apa salah dan dosaku?”
“Ya banyak!”
“Dulu aja pas baru menikah kamu so sweet…. Aku lupa bawa jaket kamu mau minjemin… Sekarang boro-boro…”

Delapan tahun lalu, saya penah lupa membawa jaket ketika main ke kantor suami. Cuaca saat spring memang labil. Pagi panas, eh siangnya suhu drop ke 2 derajat celcius.

Di halte bus University of Massachusetts, Amherst, AS; seorang pria PhD student Cina-Malaysia yang sudah berumah tangga, senyum-senyum simpul melihat suami pakai kemeja tangan pendek.

“So, you sacrifice yourself for your wife, huh?”

Itu dulu. Delapan tahun lalu.

“Lha iya, Bu… Kalau dulu kamu itu radio, nada dan suaranya itu selalu pas sesuai situasi dan kondisi. Sekarang radionya berkali-kali kumatikan kok ya nggak mati-mati…”

Mungkin jaman sekarang, mempertahankan ikatan rumah tangga bisa dihitung sebagai prestasi tersendiri. Persoalan semakin banyak. Di sisi lain kesabaran menipis. Sudah umum diketahui pernikahan di Barat kian langka. Lebih langka lagi yang mempu mengantar bahtera rumah tangganya sampai ke tujuan.

Di Colchester, Essex, bisa dibilang kotanya lansia. Pelayanan kesehatan bagi lansia bahkan termasuk prioritas sistem pelayanan kesehatan di kota kecil ini saking banyaknya lansia dibandingkan dengan yang usia produktif. Karena hampir selalu menjumpai dan berpapasan dengan lansia, jadi ikut memperhatikan kehidupan para lansia. Termasuk memperhatikan para lansia yang sukses dalam menjaga pernikahannya dan belajar bagaimana merawat cinta dalam pernikahan.

Dikatakan merawat, karena jaman sekarang segala sesuatu harus dirawat. Tanaman saja harus rutin mendapatkan air, udara, dan sinar matahari. Apalagi pernikahan. Konon orang-orang Barat luar biasa romantisnya. Tak heran banyak perempuan Indonesia jadi korban penipuan lewat media sosial akibat terbuai rayuan gombal para buaya darat berbahasa Inggris ini.

Tapi sebetulnya, kalau mau melihat sisi positifnya, romantisme tetap diperlukan dalam kehidupan rumah tangga. Tak usah yang aneh-aneh. Justru yang dilakukan para pelaku yang sukses dalam rumah tangga biasanya sangat sederhana. Misalnya:

1) Mengucapkan 3 kalimat sakti: Sorry, thank you, dan please, kepada pasangan. (Sorry Bunda, aku nggak sempat ngeprin titipanmu… Sibuk hari ini… Tolong matikan lampunya, Pak. Makasih.)
2) Ringan dalam memuji pasangan. Sekadar bilang, “Nice hair cut, Ayah“; atau “Ayamnya enak banget, Bunda”, is matter. Suami dan istri juga manusia. Memerlukan pengakuan dari orang lain, dan itu normal. Bagian dari naluri mempertahankan eksistensi diri atau gharizah al baqa’.
3) Tidak memperbesar persoalan sepele. Misalnya soal kulit jeruk dan ngeblog.
4) Mengurus urusan rumah tangga berdua. Pelajaran dari gaya hidup Barat, laki-laki nggak canggung masuk dapur, cuci piring, nge-vacuum lantai. Ngga ada pembantu rumah tangga, tukang kebun atau sopir pribadi. Cuma keluarga sekelas bangsawan yang punya itu semua.
5) Selalu meluangkan waktu berkualitas untuk berduaan. Sering banget melihat pasutri lansia jalan berduaan, piknik berduaan, makan di kafe atau rumah makan berduaan, atau nonton film berduaan. Tanpa dikelilingi anak cucu.
6) Memprioritaskan pasangan. Tidak selalu anak-anak nomor satu. Ya kalau di Indonesia, ibu ada di urutan terakhir setelah anak-anak dan suami. Di sini nggak selalu begitu. Anak juga harus belajar bahwa mereka tidak selalu menjadi prioritas utama dan pertama. Di Barat, ibu tidak wajib menjadi martir yang harus selalu berkorban dan dikalahkan demi kepentingan anggota keluarga lainnya.
7) Memberikan hadiah dan kejutan. Tidak berhenti hanya pada waktu pacaran. Pasutri Barat yang sukses dalam rumah tangga, biasanya melibatkan bunga, hadiah, dan love notes.
8) Banyak berbicara dengan pasangan. Kata mereka, “Communication is key to building a solid bond and allows you to discuss your feelings, concerns, hopes and desires.  You won’t know your spouse if you don’t communicate.
9) Tetap romantis sampai tua. Nggak terbantahkan. Biarpun sudah tua, jalan tetap bergandengan tangan, berpelukan, duduk bersebelahan berdua, piknik bareng, membukakan pintu mobil bagi istri, di rumah makan menarikkan kursi untuk istri. Kadang mikirnya yang nikahnya belum sepuluh tahun saja nggak segitu romantisnya. Bahkan banyak suami di Indonesia malu berjalan bersisian dengan istrinya.
10) Rajin bilang I love you.

love note2

Lantas kenapa angka perceraian di Barat juga tinggi? Allahua’lam.

Yang saya tahu pasti, sedikit sekali pasutri di Barat yang akan memberikan resep terakhir ini.  Padahal menurut saya, yang terahir ini adalah yang terpenting. Yakni banyak-banyak berdoa.

Sejalan dengan pemikiran saya, Pak Adriano Rusfi menulis, “Selalu saja ada rasa bangga dan haru mendengar, membaca dan menyaksikan pasangan-pasangan yang merayakan kelanggengan rumah tangga mereka. Apakah itu lima, sepuluh atau dua puluh tahun. Mereka bukan sedang di kapal pesiar. Mereka sedang mengarungi sebuah misi kemanusiaan di sebuah biduk ringkih yang diterpa amuk gelombang sambil berpegang kuat pada seutas tali dari langit. Sungguh, tak ada manusia perkasa yang sanggup melakukannya. Ini adalah prestasi para hero yang dengan cerdik menyadari bahwa rumahtangga adalah bahtera terbaik menggapai surga.”

Cinta, selamat memasuki tahun ke-9.

Colchester, Essex, 4 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s