Allah bukan pencipta kembang api?

Selama lima tahun hidup di negara maju, saya selalu bertanya-tanya, bagaimana caranya negara maju bisa menjadi negara maju. Jawaban singkat asal njeplak sudah lama saya dapatkan, yakni sebuah negara akan bangkit jika dia berdiri di atas pondasi ideologi yang kokoh. Jika ideologi itu sahih, negara itu akan bangkit dan maju secara riil. Kalau ideologi yang melandasinya salah, negara tersebut bisa tetap maju dan bangkit, tapi semu, karena banyak kebobrokan di dalamnya yang tidak bisa diselesaikan oleh ideologi salah tersebut.

Saya tidak terpukau dengan betapa bersih, tertata, disiplin, aman, makmur dan sejahteranya negara maju seperti Inggris. Yang selalu ingin saya gali adalah, bagaimana prakteknya mereka meraih itu semua. Bersuamikan dosen dan bergaul dengan kalangan ilmuwan tidak memuaskan pertanyaan-pertanyaan di benak saya.

Sebagian pertanyaan itu terjawab justru ketika krucils masuk sekolah. Entah mungkin karena saya pernah mengaji kitab Bunga Rampai Pemikiran Islam (Fikrul Islam), Peraturan HIdup dalam Islam (Nizham al Islam), dan punya buku Hakikat Berpikir (At TAfkir), kok saya melihat penulis buku-buku itu bisa ‘meramalkan’ filosofi pengajaran di sekolah krucils.

Penulis ketiga buku tersebut, Taqiyuddin An Nabhaniy, menulis tentang taraf berpikir. Beliau menyatakan ada tiga level berpikir yaitu dangkal, mendalam, dan cemerlang. Pemikiran dangkal adalah proses berfikir yang hanya melihat fakta di permukaan saja. Misalnya ketika seseorang sakit, lantas melakukan tindakan tertentu ia bisa sehat. Bisa jadi mengonsumsi makanan tertentu ia menjadi sehat, atau melakukan perilaku tertentu (sering yoga, pilates, atau membakar kemenyan setiap waktu-waktu tertentu) ternyata ia sehat. Tapi ia tidak bisa menjelaskan, mengapa dengan makanan atau perilaku tersebut ia sehat. Atau mengapa orang lain yang melakukan hal yang sama, tapi tetap sakit. Pemikiran dangkal tidak menyelidiki itu semua.

mag2

Pemikiran mendalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan sebuah fakta. Diperlukan data-fakta lebih banyak, juga informasi-informasi lebih memadai, dan kemampuan menghubngkan data-fakta-informasi tersebut menjadi sebuah pengetahuan. Ini semua bisa dilakukan oleh orang yang otaknya normal, dan tidak normal. Menurut An Nabhaniy, salah satu contoh pemikiran mendalam adalah pemikiran ilmiah. Pemikiran ilmiah, bisa salah, bisa benar, bisa belum sempurna, dan disempurnakan oleh hasil-hasil riset yang bermunculan setelahnya, atau dipatahkan oleh hasil penelitian mutakhir.

Tetapi pemikiran mendalam dan ilmiah tidak secara otomatis membuat seseorang beriman kepada Allah Swt. Untuk bisa beriman kepada Allah Swt, diperlukan pemikiran cemerlang, yang menjawab siapa yang menciptakan dan mengatur alam semesta dan kehidupan ini dengan sempurna.

Bagi saya, keimanan adalah segalanya. Naudzubillah, saya tidak ingin krucils bernasib seperti Yoshiki Sasai dan Stefan Grimm yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Yoshiki Sasai tak sanggup menanggung malu, setelah hasil risetnya yang dimuat di jurnal bergengsi Nature, ternyata keliru. Sebetulnya kesalahan bukan murni salahnya Sasai. Ceritanya, adalah Haruko Obokata, mahasiswa S3 bimbingan Sasai-lah, yang memalsukan data. Sasai ‘hanya supervisornya. Apa daya, budaya malu terhadap manipulasi data ilmiah tak sanggup ditanggung oleh Sasai.

(Haruko Obokata dan Yoshiki Sasai)

Risetnya sendiri tentang STAP, Stimulus-Triggered Acquisition of Pluripotency cells, riset tentang biologi kedokteran yang sangat luar biasa bermanfaat pada masa datang karena berhubungan bagaimana menumbuhkan sel untuk pengobatan berbagai penyakit, yang menurut paper Obokata-Sasai waktu itu, baru diuji coba pada mencit/

Meskipun kemudian artikel tersebut ditarik penerbitannya dari Nature (peristiwa yang sangat jarang terjadi), namun ternyata persoalan tidak berhenti begitu saja. Tidak hanya nama baik Haruko Obokata yang alumni Waseda University saja yang hancur, tetapi juga nama Riken Center dan para co-author dalam jurnal yang sempat terbit tersebut. Termasuk yang mengalami tekanan berat adalah Yoshiki Sasai yang menjabat sebagai Deputy Director of the Riken Center for Developmental Biology.

Sementara aksi bunuh diri Stefan Grimm menggegerkan dunia ilmiah Inggris. Profesor bidang toksikologi dan perintis pengobatan kanker di salah satu kampus papan atas duna, Imperial College, London, memilih menghirup gas berbahaya karena tak kuat ditekan kampusnya untuk selalu mencari uang lebih banyak melalui proyek penelitian.

Barat yang sekuler, secara teori, tidak mengajarkan agama. Kelas-kelas di sekolah dan perguruan tinggi diisi dengan bagaimana siswa dan mahasiswa harus mampu berpikir mendalam, alias berpikir ilmiah. Negara maju menyediakan semua fasilitas untuk itu; pelayanan pendidikan berkualitas tinggi bebas biaya, kelas kecil dengan jumlah murid maksimum 30 orang dipegang oleh minimal 2 guru, buku-buku berkualitas gratis, fasilitas gedung sekolah dan peralatan di dalam sekolah yang baik, dan proses belajar mengajar yang superb.

Menurut ranking Pearson, sistem pendidikan di Inggris menempati posisi terbaik keenam setelah Korea Selatan, Jepang, Singapura, Hong Kong, dan Finlandia. Disusul Kanada, Belanda, Irlandia, dan Polandia di bawahnya.

Sejak dini, siswa di Inggris didorong untuk belajar secara aktif, dan mencari informasi secara aktif. Mereka diajak untuk cinta membaca, meneliti, dan bertanya, “Mengapa? Bagaimana?”

mag3

Saat Christmas berlalu dan harga barang-barang diobral, saya memborong mainan kaca pembesar (magnifying glass). Hal yang tidak saya duga adalah krucils ternyata familiar dengan benda yang sama sekali tidak pernah ada di rumahnya itu. Mereka dengan sangat antusias, meski di luar rumah suhunya nol derajat celsius, merengek-rengek agar diperbolehkan memakai magnifying glass di kebun belakang rumah. Mau meneliti minibeasts, katanya.

mag4

Agar sok bermain sambil belajar, saya pun menanya-nanyai mereka tentang apa itu minibeasts (yang sebetulnya adalah binatang kecil, serangga, invertebrata), apa saja jenis minibeast yang mereka ketahui, apa bedanya minibeast yang ini dengan yang itu, bagaimana mereka bergerak (kelonjotan ala cacing, merambat seperti siput, atau terbang seperti kepik dan kupu-kupu),  apa minibeast favoritnya dan apa alasannya, apa makanannya, di mana habitatnya, dan seterusnya. Ini semua bagian dari cara sistem pendidikan Inggris menanamkan pemikiran ilmiah kepada masyarakatnya.

Saya tentu tidak berhenti di situ. Di dalam setiap kesempatan saya selalu berusaha menanyakan, “Who did create minibeasts? Who did create trees? Who did create rain and rainbow?”
Daaannnn hampir selalu dijawab dengan, “I don’t know…”
Daaaannn saya akan menerangkan dengan penuh gaya, “It was Allah subhanahu wa Ta’ala, the one and only He, could create minibeasts, trees, flowers, rainbow, fish, et cetera…” yang biasanya lantas disambung dengan pertanyaan, “So we say Subhana?”
“Subhanallah…”Agar khotbah makin mantap maka perlu diterjemahkan, “Subahanaalah means Maha Suci Allah, Glory be to Allah… We say subhanallah and MashaAllah when we witness anything in Allah’s creation… when we see and admire Allah’s creation… For example when we see a beautiful flower, or an animal, or the stars, or the sun, or the moon, or the rain, or absolutely anything in the Allah’s Creation…”

Malam pergantian tahun, pemandangan kembang api pemanasan berlompatan melalui jendela kamar tidur. Kembang api pemanasan maksudnya adalah kembang api kecil-kecil yang dinyalakan sebelum kembag api besar yang dirayakan tepat jam 00.00.

“Look, Bunda, firework…”
Karena liburan dan saya sudah ngantuk, saya cuma bilang, “If you want to see it, open the curtains, Mas…” Kami lantas terlibat beberapa perbincangan kecil seputar nonton firework.
Sampai akhirnya saya iseng bertanya, “Mas, who did create fireworks?”
Dan dengan penuh semangat Fahdiy menjawab, “ALLAH… Subhanallah…”

Perjalanan punya anak sholih, masih sangat jauh nampaknya. Semoga Allah memberikan saya kekuatan dan kesabaran tak berbatas. Amin.

Colchester, Essex, 2 Januari 2015

Ditulis dengan mengutip tulisan Sunardi Al Banyumasi, http://jambanpanyileukan.blogspot.co.uk/2014/08/supervisor-peneliti-jepang-yang-cantik.html

Advertisements

One thought on “Allah bukan pencipta kembang api?

  1. Kalau bicara menciptakan, berarti mengadakan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada. Dari situ, maka berarti Allah menciptakan segalanya, termasuk benda-benda seperti firework.. mengapa? Apa bahan bakar firework? belerang, karbon, potasium, dll semuanya adalah ciptaan Allah. Peran manusia, hanya menemukan cara untuk meramu bahan-bahan yang sudah ada. Siapa yang menciptakan bahan-bahan tersebut? Tak lain adalah Allah SWT.

    Lalu bagaimana dengan ide untuk mencetuskan firework itu, bukankah berarti penciptaan? Perlu diketahui, ide dan kreativitas dibangun atas informasi-informasi yang telah ada sebelumnya dalam otak. Akal manusia tidak bisa mencetuskan sesuatu yang baru sebelum menerima informasi-informasi terkait sebelumnya. Kesimpulannya, apapun itu, apakah sesuatu yang terindera seperti benda-benda ataupun yang tak terindera seperti pemikiran,ide,informasi, semuanya berasal dari Allah SWT.

    Saya kurang setuju dengan judul “Allah tidak menciptakan firework…” atau yang sejenisnya, karena ini berarti pengingkaran terhadap sifat Allah sebagai Maha Pencipta. Sebaiknya ditambahkan dengan simbol (?) di akhir judul, atau judulnya diubah sama sekali.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s