Menaklukkan Winter, Menaklukkan Dunia (Bagian 1 dari 2)

 

(Nottingham, City Centre, Maret 2013)

Bukannya tidak bermaksud membenci rahmat Allah Swt, tapi pada dasarnya saya tidak suka winter. Delapan tahun hidup di negara empat musim, sejujurnya, jauh di lubuk hati yang terdalam, saya tidak suka hawa dingin. Tidak ada asyik-asyiknya melawan rasa sakit akibat angin dingin yang menampar-nampar wajah, menggigit-gigit jari-jemari tangan yang terbalut sarung tangan winter, beku yang merayap perlahan-lahan dan semakin lama menyebabkan nyeri di ujung-ujung jari kaki yang bersembunyi di dalam kaos kaki dan sepatu boot, kalau pakai bahasanya KLa Project, “Terhempas bimbang sikapmu, menggigil palung hati, di pelukan bimbang jawabmu… Membeku dan sara tak terkira…” Yang kenal lagu ini berarti musti insyaf. Inget umur, Tante.

Sebetulnya, winter saya lebih suka di rumah. Andai energi murah meriah, heater (pemanas ruangan) akan saya nyalakan 24 jam nonstop. Ngadep kompor, oven, dan microwave sepanjang hari. Menyetrika tanpa komplain di mulut dan hati. Lantas baca buku di atas tempat tidur sambil makan kacang atau kuaci. Tidur pakai kaos kaki, dan sweater, lantas berselimut dari leher sampai ujung kaki. Atau nonton film di laptop, di atas kasur, ditemani suami, sambil ngemil tak henti-henti.

Oh, semua itu sungguh sangat saya gemari. Biarpun di luar salju tumpah setinggi paha kaki, saya tak peduli. Bikin snowman tak pernah ada di dalam agenda saya dan suami. Begitu pun dengan sledging, apalagi main ski.

Komputer, komputer, komputer. Ya ya ya. Mau bagaimana lagi. Matematika tidak memerlukan laboratorium. Asal ada komputer dan koneksi internet, bisa dikerjakan di atas kasur tanpa meja. Hobi nulis ibu rumah tangga juga tiada berbeda.

Namun semuanya berubah saat negara api menyerang (ini quotation di mana sih kok populer banget? Naruto atau Avatar?). Nggak ding. Semua berubah sejak ada manusia kecil yang memanggil saya ‘Bunda’. Para makhluk kecil ini tentu saja tidak cukup hanya dengan diberi makan. Tapi juga harus diberi pendidikan. Akibat Si Bunda tak sanggup meng-homeschool terpaksalah mereka pergi ke sekolah.

Dan sekolah dasar mereka bukan main kejamnya. Di musim dingin pun, sekolah mengadakan kegiatan outdoor. Sebelum melayangkan komplain kepada pihak sekolah yang mungkin tak pernah menjejakkan kaki di negara bertemperatur 30 derajat celcius, Si Bunda pun melakukan riset untuk mengokohkan keberatannya.

(Nottingham, Maret 2013. Fahdiy dan Angel, teman semasa masih sekolah d Scotholme Primary School, Nottingham. Sebelum naik bus menuju White Post Farm)

Ternyata hasilnya terbalik. Karena Si Bunda akhirnya taubat, tak lagi membenci winter dan saljunya. Akses internet cepat memudahkan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, bahwa outdoor activity seyogyanya tetap, bahkan harus, dilaksanakan di segala musim. Mau panas terik kek, hujan banjir kek, atau bersalju sekali pun. Lebih-lebih di United Kingdom saljunya dikenal hanya tipis-tipis, tidak akan sampai memerlukan truk pengeruk salju atau sampai membatalkan jadual penerbangan pesawat udara.

(Yang terpenting, anak sehat, kenyang, dan pakaiannya melindungi anak dari udara dingin.)

Minimal ada lima keuntungan melakukan kegiatan di luar rumah saat musim dingin:

Pertama, anak-anak lebih sehat. Sudah jamak diketahui begitu suhu udara turun, batuk, pilek, demam, dan berbagai penyakit common cold lainnya mengintai. Meski begitu, justru berada di ruangan terbuka, menghirup udara segar, sebetunya jauh lebih menyehatkan daripada berada di dalam rumah yang selama musim dingin terus-terusan tertutup ventilasinya. Di dalam ruangan tertutup, segala macam bakteria dan kuman berputar-putar. Semakin lama berada di ruangan tertutup, semakin besar peluang terekspos penyakit common cold.

(Antre naik bus menuju White Post Farm.)

Kedua, mengokohkan sistem imunitas tubuh. Asalkan memakai pakaian yang tepat, mengonsumsi makanan bergizi, apalagi waktu masih bayi diberi ASI, terus lengkap divaksinasi, dan oleh ortunya dicintai, winter outdoor activity justru meningkatkan daya tahan tubuh.

 

(Biarpun winter anak-anak TK ini harus berada di tepi empang di udara terbuka)

Ketiga, harap diingat bahwa krucils tetap tumbuh dan berkembang sepanjang musim dingin. Nge-games di smarphone, tablet, komputer, dan segala jenis gadget seharusnya menjadi pilihan yang paling akhir. Pergantian musim seharusnya dinikmati sebagai kesempatan untuk tadabbur alam, melihat bagaimana musim berubah, sekaligus peluang merancang dan mengeksekusi aktivitas yang sama sekali berbeda dari rutinitas di musim panas. Winter bukan halangan untuk tetap melatih otot sekaligus otak. So, bubye games…

(Fahdiy nonton Mr. Davis memegang ular sanca)

Keempat menstimulasi imajinasi anak. Emak mati gaya seperti yang nulis, sah-sah saja kalau mau nyontek artikel semacam 10 Outdoor Winter Activities for Kids, 18 Fun Outdoor Winter Activities for Kids & Adults, kalau diperlukan sudah tersedia daftar 50 family must-do winter activity. Mulai dari bikin snowman, skating, winter hike, sleding, snowball fighting, sampai indoor acitivities semacam cooking-baking-sewing-main puzzle sudah dituliskan dalam daftar.

(Kafetaria di White Post Farm)

Kelima, yang terpenting, have fun! Ya kalau memang sudah suratan harus tetap berada di negara empat musim selama musim dingin, mau bagaimana lagi. Disyukuri, dan dinikmati sajalah….

Colchester, Essex, 31 Desember 2014

 

Advertisements

2 thoughts on “Menaklukkan Winter, Menaklukkan Dunia (Bagian 1 dari 2)

  1. menarik banget mbak artikelnya, tapi saya tetep milih di rumah aja dengan heater yg selalu menyala 24 jam plus ngemil kalo musim dingin,hihihihihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s