Belajar dan Mengajarkan Etika Bertamu

tahani1

Hari itu cukup dingin, dua derajat celcius. Salju bahkan sudah berjatuhan di beberapa kota terutama di bagian utara Inggris. Tapi saya memaksa krucils untuk mandi. Soalnya kami diundang makan siang oleh teman keluarga Irak. Dalam perjalanan kami mampir ke supermarket, saya membeli bunga potong, buah dan cake coklat untuk Nyonya Rumah.

Meski keluarga pengundang tidak punya anak balita dan tinggal di apartemen mewah, karena suasana santai, krucils juga tenang bermain dengan kedua putra tuan rumah. Sebetulnya Tuan Rumah sudah berusaha formal, mengajak kami makan di atas meja. Hanya saja Sang Tamu merasa lebih nyaman makan lesehan.

tahani2

(gambar ilustrasi dari http://openviewgardens.com/guest-series/michaelas-favorite-iraqi-dishes/)

tahani3

(gambar ilustrasi dari http://openviewgardens.com/guest-series/michaelas-favorite-iraqi-dishes/)

Dinara cuma makan 2 potong kubah. Fahdiy seperti biasa, tidak makan apa pun.

(foto ilustrasi kubah dari http://www.madame-kubah.com/products/kubah-mosul/)

Di akhir acara makan siang, dihidangkan coke. Langsung deh Fahdiy dan Dinara berusaha minum sebanyak-banyaknya. Aji mumpung. Soalnya mereka tahu di rumah tidak pernah disediakan. Di sekolah guru-gurunya selalu mengajarkan coke itu junk food and not healthy. Dan kebetulan ortunya nggak suka fizzy drink. Jadi nggak pernah menyimpan minuman berkarbonasi di rumah.

tahani5

Sementara krucils lomba minum cola, Bundanya malah mengagumi permen jahe dan kacang-kacangan yang ditata dalam gelas cantik. Sedianya kacang-kacangan itu untuk cemilan. Tapi karena tamunya orang Indonesia ngga biasa ngemil yang seperti itu, ya akhirnya dari 6 gelas yang disediakan hanya berkurang setengah gelas.

tahani4

Setelah makan, yang dewasa ngobrol. Krucils dihadapkan layar kaca. Dara menganut prinsip perut kenyang hati senang. Langsung pulas dipangku ayahnya dan dipindahkan ke ruang tidur anak-anak. Mahdi The Explorer menjelajahi lantai dan meja rendah.

tahani6

Bertamu tidak sesederhana kelihatannya. Tanpa disadari sebetulnya proses belajar-mengajar berlangsung dalam aktivitas bertamu maupun menerima tamu. Mulai dari memilih pakaian yang pantas, disunnahkan membawa hadiah, sebaiknya tepat waktu, mengucapkan salam, mau mencoba makanan yang tidak biasanya, dan tidak boleh memberikan komentar negatif sama sekali.

Beberapa aturan dasar bertamu diajarkan secara bertahap dan biasanya baru dipahami saat anak berusia lebih dari tiga tahun. Di antara yang kami terapkan adalah harus mengucapkan salam, berjabat tangan dengan orang dewasa (salim, kalau dengan keluarga Indonesia), melepaskan alas kaki dan jaket sebelum masuk, tidak boleh sembarangan memegang barang di dalam rumah, dan tidak boleh lari-lari di dalam rumah.

Anak-anak juga harus belajar bermain bersama, meminta ijin kepada pemilik mainan, dan memahami konsep meminjam yang nantinya harus dikembalikan. Biasanya bagi anak berusia kurang dari tiga tahun ini semua belum bisa dimengerti. Mereka cukup harus paham bahwa di tempat yang berbeda, aturannya berbeda. Bayi seperti Mahdi yang belajar berjalan dan rajin mengeksplorasi, memerlukan pengawasan orang tuanya.

Berikutnya adalah belajar meminta ijin jika ingin ke toilet. Juga menggunakan kata-kata may I, please, dan thank you. Misalnya, “May I borrow your truck, please? May I read your book, please? May I use your computer, please? Thank you…”

Bagi anak-anak yang lebih besar, akan ada waktunya belajar bergabung dalam pembicaraan orang dewasa. Termasuk belajar mendengarkan, menunggu alias tidak menyela atau memotong kalimat orang lain, dan belajar menjawab pertanyaan. Ini akan dimulai dari pertanyaan semacam, “How old are you? What’s your teacher’s name? In what class are you?” Dan sejenisnya.

Yang terakhir belajar berpamitan. Di sini yang terbesar peran orang tua. Aturan dasar berpamitan biasanya ada dua hal, mengucapkan terima kasih dan mendoakan tuan rumah, serta meminta maaf atas segala kesalahan tamu, misalnya membat ruangan jadi kotor atau berantakan. Mau bagaimana lagi, dengan 4 anak, berantakan adalah tak terhindarkan. Untuk anak-anak tertentu biasanya akan belajar dengan cepat. Saat berpamitan dengan teman barunya mereka akan mengucapkan kata-kata semacam, “You are my best friend,” atau sejenisnya.

Secara umum, pada dasarnya, anak-anak belajar dari orangtuanya. Etika bertamu dan beramahtamah tidak cukup diajarkan di sekolah. Jadi kalau ingin anaknya menjadi anak yang sopan santun, mengerti tata krama, mudah beradaptasi, ramah dan punya selera humor yang baik, orangtua harus mencontohkan terlebih dahulu.

Colchester, Essex, 29 Desember 2014

Advertisements

4 thoughts on “Belajar dan Mengajarkan Etika Bertamu

  1. ngomongin org irak. pd suatu kesempatan stelah shalat isya, sya ngobrol dg mahsiswa pascasarjana its, berasal dari irak dan sudah fasih bahasa indonesia. singkatnya, dan tdk saya duga, ternyata beliau pro isis. menurut beliau, jika ada khilafah lagi selain daulah islamnya isis maka khilafah tersebut patut diperangi. hmm bagaimana dg pandangan keluarga irak diatas y terkait isis.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s