Toleransi Antarumat Beragama?

christmas2014

(Hiasan Christmas di depan TESCO dekat rumah)

“Hari Senin lalu kenapa nggak ada kegiatan?” tanya saya ke Ariel.
Perempuan gemuk berusia 50-an itu menjawab, “Saya sakit, saya sudah menelepon yang lain tapi tidak ada yang datang membantu mengurus mainan-mainan ini.”
Saya langsung merasa tidak enak, dan minta maaf karena tidak pernah menolongnya.
“Oh, I’m not talking about you,” katanya penuh pengertian. “I know you’re busy with your babies. I’m talking about the other women over there,” ucapnya sambil dagunya menunjuk ke ibu-ibu bule yang duduk-duduk sambil mengobrol minum teh sembari makan roti bakar.

Adventurer Toddlers Group, playgrup yang dikelolanya, tiap Senin menyewa salah satu ruangan di sebuah gedung serbaguna di kawasan Beeston, Nottingham, untuk tempat bermain anak-anak balita. Sebetulnya playgroup itu bermula di gereja. Karena memerlukan ruangan lebih besar, jadilah para aktivis gereja itu menyewa ruangan sebuah gedung social club di Beeston, Nottingham, dan membuka playgroupnya untuk umum, 2 jam sepekan setiap Senin. Ketika pindah ke daerah Radford, Nottingham, sesekali saya mengajak krucils ke St Stephens Church untuk bermain gratis di playgroup-nya yang diselenggarakan komunitas The Vine. Di playgroup komunitas semacam itu, dengan membayar murah, anak-anak bisa bermain sepuasnya selama 2 jam. Sementara pengasuhnya bisa mengobrol sambil ngemil.

Sejak masih tinggal di Amherst, Massachusetts, AS, 7 tahun lalu pun; saya sudah biasa berinteraksi dengan komunitas Kristen dan Yahudi di Amherst. Komunitas muslim Amherst aktif menjalin komunikasi dengan komunitas dari dua agama tersebut. Sesekali para muslimah yang datang ke gereja atau ke sinagog. Beberapa kali pula muslim mengundang mereka untuk datang ke Hampshire Mosque. Tapi tak pernah sekali pun komunitas muslim ikut merayakan hari besar agama lain.

“Is Father Christmas coming to our house, Bunda?” tanya krucils.
“No. We are muslim so we don’t celebrate Christmas.”

Di sekolah, anak-anak belajar tentang Diwali, hari raya umat Hindu India. Beberapa waktu lalu mereka juga belajar tentang Hanukkah, hari raya umat Yahudi. Kalau hanya sekadar tahu, silakan. Tetapi sejak dini saya harus menanamkan bahwa ada batasan tegas tentang yang halal dan yang haram. Semakin dini mereka mengenalnya, ke depan akan semakin mudah. Meski hati kecil kadang meronta-ronta, nggak tahan melihat krucils ingin ikut merayakan Christmas.

Saya banyak belajar dari Mbak Dian Pangestuti Neilson, “Dulu, waktu anak pertama belum lama masuk sekolah primary disini, menjelang natal, sekolah disibukan dengan kegiatan-kegiatan untuk menyambut natal, termasuk konser natal.
Saya besarkan hati anak, bahwa dia tidak perlu ikut konser, dan selalu ingatkan bahwa muslim tidak merayakan natal. Karena diusia yang amat belia dulu, saya tak ingin dia merasa kecil hati atau ‘being left behind’.
Kini, setelah punya anak tiga, saya tidak perlu menjelaskan lagi kepada kedua anak saya lainnya, mungkin karena sebagai kakak tertua, adik-adiknya meniru apa yang kakaknya lakukan dulu di sekolah primary.
Alhamdulillah, anak-anak semakin besar semakin mengerti akan lingkungan disekitarnya.”

Ya memang, yang harus kuat, ibunya dulu. Yang harus punya visi jelas, ya harus ortunya dulu.

“Santa won’t come to our house, Sayang Cinta,” terang saya berkali-kali. “But if you want to, we can make a party. You can invite Sadeed, Hakim, Razan and Riman and Hayrunnisa. Or, we can go to Nottingham and meet Tsaqif there. We don’t have to wait Christmas to make a party, and we can share presents anytime we want to do so. And now, do you want to go to Nottingham with Ayah and Bunda to meet Tsaqif and Mbak Naila? You can meet Mbak Qonita, Mas Saif, Mas Rijal, Mbak Cindy and Mbak Dinda and more friends there. What do you think?”

Toleransi itu, menghormati mereka yang merayakan Christmas, Diwali, Hanukkah, dan sebagainya. Bukan berarti muslim harus ikut mengucapkan selamat atasnya, apalagi ikut-ikutan merayakannya.

Lakum dinukum waliyadiin.

Colchester, Essex, 24-12-2014

Ilustrasi : Foto di depan dekorasi supermarket sehabis belanja

Advertisements

One thought on “Toleransi Antarumat Beragama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s