Christmas Kedua di Inggris

nativity(Nativity di sekolah, sumber gambar St. Mary Magdalen’s Catholic Primary School)

Perayaan nativity (peringatan kelahiran Jesus menurut agama kristen) di sekolah tahun ini adalah yang kedua kali untuk Fahdiy (6 tahun), dan pertama kali bagi Dinara (4,6 tahun). Karena sudah terlalu sibuk dengan Dara (2,8 thn) dan Mahdi (1 tahun), rasanya saya nggak terlalu cemas tentang perayaan Christmas di sekolah.

Catatan kecil, saya melihat ada perbedaan besar antara sekolah krucils yg lama (ketika tinggal di Nottingham), dan yg sekarang (di Colchester, Essex).

Scotholme Primary School, PAUD-nya Fahdi di Nottingam, adalah public school, alias sekolah negeri. Hanya saja, karena terletak di Hyson Green Nottingham, yang banyak muslimnya, siswanya pun banyak yang muslim. Sekolah tidak melarang siswi hadir ke sekolah dengan berhijab. Dan dalam pelajaran sehari-hari pun tidak disinggung nuansa agama. Seratus persen sekuler.

Persoalan baru kami hadapi di saat meminta izin agar Fahdiy tidak dilibatkan dalam nativity. Entah mengapa pihak sekolah terkesan berat dalam memberikan izin. Salah satu alasan yang digunakan sekolah adalah, karena kami adalah keluarga muslim satu2nya yang tidak membolehkan anak terlibat nativity. Fahdiy tidak boleh membolos, karena kehadiran siswa termasuk yang dievaluasi oleh pihak dinas pendidikan.

Dua tahun lalu, saya pun hadir di perayaan nativity. Sekadar nonton, sembari memberikan dukungan psikologis kepada Si Sulung. Saya menyaksikan anak2 muslim menyanyi memuji-muji keagungan Yesus. Nama-nama seperti Ahmad dan Zaenab, memberikan kartu bertuliskan Merry Christmas kepada Fahdiy, juga sudah biasa.

Waktu itu saya cemas Si Sulung akan sedih lantaran tidak dilibatkan dalam nativity. Di sepanjang acara nativity, saya berkali2 mensugesti Fahdiy, “Mas, nggak apa-apa ya nggak ikut Christmas party... Bunda juga ngga ikut… Anak sholih nggak ikut Chritmas party….”

Desember tahun lalu kami pindah ke Colchester. Krucils baru mendapatkan sekolahnya di awal Februari, sehingga kami tidak perlu berurusan dengan nativity.

Sekolah baru ini juga public school, alias sekolah negeri. Tapi karena muslim di Colchester adalah minoritas, teman sekolah krucils pun mayoritas white British.

Di sekolah baru ini, ajaran Kristen diajarkan secara TSM (terstruktur, sistemastis, dan masif). Baru saja memasuki awal musim gugur, sekolah mengundang para ortu dan wali murid untuk menyaksikan perayaan Harvest Party. Lha, saya kira ya pesta panen biasa. Nggak tahunya, ada ‘taushiyah’ dari Reverend (Pendeta) Hilary, dan beliau mengajak semua anak menyanyi untuk berterima kasih kepada Tuhannya.

Acara mengumpulkan dana untuk sumbangan kepada St Helena Hospice pun, Reverend Hilary hadir untuk menyampaikan ‘taushyah’nya.

Maka ketika awal Desember kelasnya Dinara memprogramkan Trip to Church dan mengundang para ortu dan wali murid, saya ikut.

Materinya tentang wedding ceremony. Di gereja, Reverend Hilary menunjukkan gaun pengantinnya, foto ketika ia menikah, foto kedua anaknya yang sekarang sudah perempuan dewasa, lantas bercerita tentang Noah, para binatang, dan bahteranya yang terapung selama 40 hari. Di akhir acara, saat anak-anak sibuk memakai jaket, topi, syal, dan kaos tangannya, saya yang memilih keluar belakangan, mengobrol dengan Reverend Hilary.

“Bagaimana acaranya menurutmu? Apakah ada kesamaan dengan Islam?”
“Iya, ada miripnya, tertama bagian Noah…”
“For most of the children, this is their first time coming to church…” katanya.
“Really? I’m a bit surprised, coz I see many churches around here… From school on the way here I saw at least 3 churches 2 near the library…” kata saya.
“People here are so wealthy that they have no room for God,” kata Reverend Hilary lagi, sambil melepas kami berpamitan.

Sepanjang awal Desember sampai hari ini, pekerjaan krucils di sekolah adalah: mewarnai Christmas tree, menghias Christmas tree, menghitung bintang2 hiasan Christmas, mengukur pakai penggaris karton yg dibentuk seperti Christmas Candy yang berbentuk tongkat belang-belang merah putih.

Dan homework/PR-nya: to practice the song for Nativity.

Di acara Nativity, saya (hadir bersama Dara dan Mahdi) memilih bangku paling belakang. Lantas mengajak Dinara dan Fahdiy bergabung. Keluarkan biskuit, empat anak duduk tenang main sendiri, nggak peduli teman2nya memakai kostum Christmas dan menyanyi:

See him alying on a bed of straw
Draughty stable with an open door
Mary cradling the babe she bore
The prince of glory is his name.

Oh, now carry me to Bethlehem
To see the Lord appear to men
Just as poor as was the stable then
The prince of glory when he came.

Atau ini ‘favoritnya’ Dinara sebelum saya tahu kalau ini Christmas song. Karena Dinara nyanyinya nggak lengkap, cuma, “Faster than a rocket, speeding like a bullet… shooting like a comet, flying supersonic…”

Ternyata lengkapnya:

Faster than a rocket
Speeding like a bullet
Angels made the journey to earth from heaven
Shooting like comet
Flying supersonic
Angels with a message to earth from heaven

Many angels in the air tonight
On a mssion sent from God on high… they’re coming!!!

Hamdan lillah, meski di kelasnya mereka adalah satu-satunya yang tidak terlibat Nativity, krucils sama sekali tidak sedih. Memang benar, yang pertama kali harus kuat, ya emaknya.

“Why (did) Allah make winter, Bunda? I don’t like winter, it’s cold…” tanya krucils satu ketika.
“Allah is so powerful that He can make everything, even things human can’t make. So, Allah creates winter, spring, summer, and fall, to show us that He is Great and powerful…” Ini jawaban maksudnya nyonto ayat2 yang menunjukkan pergiliran siang dan malam sebagai bukti kekuasaan Allah.

“Why dogs don’t wear shoes?”
“Because Allah subhanahu wa ta’ala provide them strong legs. You see, Allah is merciful, He provides animals with strength and good skin so they needn’t have to wear socks, shoes, nor clothes like us.

“Why we can’t fly, Bunda?”
Well, Allah is justice. He provides wings to birds so they can fly and we can’t. But Allah gives us thought to think right and wrong, good and bad, and Allah gives us power called creativity…” (Emak mulai melantur… dan disambar dengan sukses)

“What is creativity Bunda?”
“It’s a power Allah gives to human, not all human, but some of them. With creativity we can solve a problem in many ways. You have creativity, use it to help others, and to please Allah subhanahu wa ta’ala, OK?”

“Is Allah giving food, Bunda?”
“Yeesssss…. That is why we have to say ALHAMDU?”

“Lillah… And before eat we say Bismillah…”

“Ayah, Dara made the bed messy… and it makes us angry… Angry is from shayton, isn’t it, Ayah?
“Bunda, in Alif Ba Ta School, did Alquran make Allah, Bunda?”

Pelaut tangguh tidak lahir di kolam renang. Pelaut ulung lahir dari hempasan ombak yang bergelombang. Bukankah pribadi yang hebat selalu lahir dari peristiwa peristiwa rumit dan sulit yang membelit dalam kehidupannya?

Jadi, berbanggalah, Nak, jika kita harus berhadapan dengan tantangan-tantangan besar di dalam hidup kita. Apapun itu bentuknya. Tak perlu berkeluh, menyesali mengapa tak hidup nyaman saja di bumi khatulistiwa.

Insya Allah, semua ada hikmahnya.

Inna ma’aal ‘usri yusra, fainna ma’al ‘usri yusra…

Colchester, 14-12-2014

Ilustrasi: Kegiatan Nativity anak-anak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s