Christmas Cards dan Kartu Lebaran yang Punah

christmas card

Sepekan lalu krucils keluar dari kelas sambil melambai-lambaikan secarik kertas. Tak hanya krucils berdua, siswa lain pun demikian. Kertas itu adalah Christmas Card list untuk masing-masing kelas.

Jujur saja, setelah hampir sewindu tinggal di UK, baru Natal tahun ini saya terkagum-kagum pada tradisi saling memberikan Christmas Cards ini. Di toko-toko kelontong maupun supermarket, kartu Natal dijual berjajar-jajar. Termasuk di toko buku.

“Kamu dapet kartu Natal, gak, Yah?” tanya saya kepada suami.
“Dapat, di kantor. Nggak kubawa pulang.”
“Ngasihnya gimana? Dikasihkan langsung ke kamu atau lewat pos?”
“Yang memberi teman2 kantor. Dimasukkan loker suratku.”

Di sekolak krucils, sebelum masuk kelas, para ortu dan anak-anak saling memberikan kartu Natal.

Lucu juga, pikir saya. Soalnya selama ini saya pikir, kartu harus diberikan lewat pos. Kartu-kartu Natal yang dijual beragam bentuknya. Beragam pula harganya.

“Bisnis perayaan agama,” komentar suami ketika melihat tumpukan Christmas Carsd krucils yang diberikan oleh teman-teman dan guru-gurunya.

Saya cuma senyum. Bagaimana pun, ada perasaan berbeda, memegang menerima amplop, membukanya, melihat-lihat gambarnya, membaca tulisannya, dan menyimpan kartu-kartu itu. Sangat jarang terjadi dua orang bisa memberikan kartu yang persis sama.

Perasaan ini hadir sekitar 20 tahun silam saat saya masih rajin mengirimkan kartu-kartu lebaran kepada teman-teman dan keluarga besar. Dua pekan sebelum Idul Fitri, Mama sudah menyiapkan daftar para Pakde, Bude, Oom, dan Tante yang akan saya kirimi kartu. Tak lupa teman-teman sekelas saya sendiri.

Sepulang sekolah sebelum masuk rumah, selalu melongok ke kotak pos. Suara motor Pak Pos jadi ditunggu-tunggu. Lebih dari itu semua, sekarang saya baru menyadari, ada proses pendidikan dalam menulis sebuah kartu.

Minimal anak belajar menulis nama dan alamatnya sendiri. Lantas menulis nama orang lain dengan benar, dan alamat yang dituju dengan tepat. Kemudian menulis pesan pribadi. Menulis kepada orang yang lebih tua tentu berbeda dengan menulis kepada teman sebaya. Menulis kepada teman akrab, berbeda dengan kepada teman yang tidak dekat.

Begitu pun memilih gambar kartunya. Menyesuaikan penerimanya.

Tahun ini saya putuskan krucils juga memberikan kartu kepada teman-teman dan guru-gurunya. Supaya murah, saya beli kartu yang ukurannya paling kecil, mungkin 5x5cm atau 6×6 cm.

“Are these Christmas Cards, Bunda?” tanya mereka.
“No, these are blank cards. You can write or draw on it and give it to your friends and your teachers.”

Mula-mula krucils menuliskan nama teman-teman dan guru-gurunya di bagian atas kartu, lalu namanya sendiri di bagian bawah. Lantas nama penerima kartu di sampul amplop, dan nama sendiri di bagian belakangnya. Sesudah itu, saya menuliskan isi kartunya,

Jadi di dalam kartu akan terbaca begini:

Miss Froud/Miss Woods/nama guru lainnya (tulisan krucils)
Have a nice holiday (tulisan Bunda)
from (tulisan Bunda)
Krucils (krucils menulis nama masing-masing)

Sambil menulis nama teman-temannya, anak-anak bercerita, “I don’t like James (nama samaran), Bunda, he is not nice…”
“Sahara (nama samaran) is my best friend!”
“Alex (nama samaran) is ill, Bunda… He didn’t come to school…”
“I dont write for my boyfriends! I’m not a boy, Bunda… I just write for my girlfriends!”

Krucils saya dorong menulis atau menggambar apa pun sepanjang dalam batas kesopanan umum. Dan akhirnya, “May I lick the cards, Bunda?”

Haha, kok ya tahu mereka, kalau untuk menutup amplop tidak harus pakai lem. Cukup dijilat saja pinggiran bibir penutup amplopnya, kertasnya otomatis lengket.

Di sekolah, saya menitipkan kartu-kartu itu kepada wali kelasnya. Ibu guru lantas memasukkan kartu-kartu tersebut ke dalam tas sekolah masing-masing anak. Tidak perlu perangko. Tidak pakai Pak Pos.

Inggris adalah salah satu negara maju. Tetapi, kelihatannya, kemajuan teknologi komunikasi belum akan menggusur eksistensi Si Christmas Cards.

Yang jadi pertanyaan saya, kenapa di Indonesia ponsel memunahkan kartu lebaran, ya?

Colchester, Essex, 19-12-2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s