Practical Life (Montessori Bagian 2) (ODOP Day 70 of 99)

Sumber foto: Montessori Tampa

Practical life

Untuk anak-anak 2-5 tahun, yaitu belajar menyendok, menuang, menjepit, memeras. Prinsip dasarnya adalah mengerjakan dari sederhana ke kompleks.

Misalnya aktivitas menyendok. Maka diurutkan:
– Menyendok dari satu mangkuk ke mangkuk lain.
– Menyendok dari satu mangkuk ke dua mangkuk lain yang ukurannya sama.
– Menyendok dari satu mangkuk ke dua mangkuk lain yang ukurannya berbeda.
– Menyendok dari satu mangkuk ke mangkuk lain yang ada garis takarannya.

Perlu diperhatikan di sini adalah jika anak belum menguasai satu aktivitas, tidak diperbolehkan beralih ke aktivitas yang lebih kompleks. Jika anak sudah menguasai keterampilan menyendok, dilanjutkan pada keterampilan menuang. Demikian seterusnya sampai anak menguasai keterampilan menjepit dan memeras.

Target utama latihan menyendok adalah agar anak menguasai aktivitas menyendok dari satu mangkok ke mangkok lain. Dalam prakteknya, kegiatan ini juga melatih anak untuk mengikuti perintah, mengoordinasi motorik halus terutama mata dan tangan, melatih konsentrasi dan kemandirian anak.

Continue reading

Metode Montessori Bagian 1 (ODOP Day 69 of 99)

Sumber gambar: Forbes

Apa itu Montessori?
Montessori itu adalah sebuah metode pengajaran anak usia dini yang dicetuskan oleh dokter Maria Montessori (1870-1952). Prinsipnya adalah “Children teach themselves”. Ibaratnya jika kita menanam tumbuhan, apa yang kita lakukan? Tentunya adalah memastikan bahwa tumbuhan tersebut mendapatkan cukup sinar matahari, air, dan dikasih pupuk. Lantas, tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri.

Demikian juga dengan anak. Golden period pada anak adalah 0-5 tahun. Dalam rentang waktu itu, otak anak berkembang sangat pesat. Terutama di usia 0-3 tahun, anak ini ibarat spons (unconsious mind), yang banyak menyerap dari lingkungan. Setelah 3 tahun, barulah anak ini masuk ke consiuos mind, dimana dia sudah punya kemauan, sudah tahu minatnya kemana. Tiap anak juga memiliki spiritual embryo, yakni ‘potensi’ dalam diri anak masing-masing yang berbeda antara satu anak dengan yang lain.

Continue reading

[Buku] All Teachers Bright and Beautiful (ODOP Day 68 of 99)

Dibandingkan buku pertama, All Teachers Great and Small yang ringkasannya saya tulis di sini, buku setebal 406 halaman ini terasa kurang menantang karena bisa dikatakan Andy Seed sudah mapan sebagai guru di Craghtwaite Primary School. Jika di buku pertama ada kepala sekolah lama Howard Raven yang kolot, kuno, dan anti terhadap metode baru proses belajar mengajar, di bawah kepemimpinan kepala sekolah baru Joyce Berry, Andy mendapatkan dukungan penuh.

Di sisi lain, persoalan kerumahtanggaan tak terlalu menonjol di serial terakhir All Teachers ini. Di buku ini dikisahkan Andy dan Barbara sudah hidup mapan bersama dua balita mereka, Tom dan Reuben. Mereka hidup tenang di desa Appleset. Satu-satunya persoalan adalah pasangan kaya raya yang tinggal persis di sebelah rumah, Wanda dan Ralph.

Continue reading

Mengajarkan Bahasa Indonesia ke Anak di Swedia (Day 67 of 99)

Pengajian online One Week One Juz (OWOJ) setiap Kamis dua pekan lalu, Kak Rosdiana Ramli yang bersuamikan laki-laki Swedia dan sekarang tinggal di Vasteras, Swedia; berbagi pengalaman mengajarkan kedua putrinya berbahasa Indonesia. Kedua putri Kak Ros (usia 17 dan 11) lancar berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan.

Menurut Kak Ros, awalnya beliau berbahasa Inggris dengan anak sulung ketika anak masih balita. Lantas di kindergarten (semacam PAUD dan TK) melihat ibu-ibu dari negara lain, misalnya dari Arab, berbahasa Arab kepada anak-anaknya. Akhirnya menginspirasi Kak Ros untuk mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak sulung yang saat itu berusia 4 tahun.

Continue reading

Non-Uniform Day (ODOP Day 66 of 99)

“Jadi kamu beli baju baru dalam rangka ini, toh?” kata Pakne Krucils.
Jumat lalu, anak-anak Infant School (PAUD dan TK, 3-7 tahun) Non-Uniform Day. Jadilah cuma Fahdiy yang berseragam ke sekolah.

Intinya sih, sebetulnya sekolah minta sumbangan. Tapi diputer-puter, nggak langsung minta duit mentah-mentah. Jadi siswa dibolehkan pakai baju bebas, dan diharapkan nyumbang telur coklat (Easter Egg). Telur coklat, ditukarkan dengan selembar kertas berisi 25 kupon. Setiap kupon berharga 25 pence. Siswa dibolehkan membeli sendiri kupon-kupon itu atau mengajak orang lain membayari dirinya. Jumat depan, pakai baju bebas lagi. Dalam rangka mengundi kupon.

Continue reading

Bye-bye, Winter 2016… Welcome, Spring 2017… (ODOP Day 65 of 99)

Musim dingin terakhir dilalui dengan salju yang cuma tipis-tipis. Sekarang, sudah pada nggak mau pake jaket winternya, “Too hoooottt…” katanya.

Saatnya membereskan baju-baju musim dingin dan mengeluarkan sandal. Sampai jumpa musim dingin 2016. Selamat datang musim semi 2017.

Colchester, 19 Maret 2017

Suatu Sore di Greenstead Library (ODOP Day 64 of 99)

Minimal 2x seminggu krucils ke perpustakaan. Perpustakaan mungil yang jaraknya hanya 6 menit jalan kaki itu buka 4 hari/minggu; Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu.

Biasanya hari Kamis saya langsung bawa krucils ke perpus sepulang sekolah. Foto-foto ini cuma pencitraan. Aslinya, ngajak krucils ke perpustakaan, nggak segampang ini.

“I want to buy ice cream!”
“I want to go to playground!”
“Me too!”
“Ya sudah library dulu,  baru ke playground. Es krim ada di rumah. Nggak usah beli.”
“I want to go home and play with the computer!”

Continue reading